200 Tanya Jawab Seputar Aqidah Islam no 3,4&5 (apakah arti hamba, ibadah dan kapan perbuatan menjadi sebuah ibadah?)

0
1098
200 tanya jawab aqidah

200 Tanya Jawab Seputar Aqidah Islam[1]

Pertanyaan no. 3

Apakah makna hamba ?

Jawab:

Jika yang dimaksud adalah sesuatu yang direndahkan atau dihinakan, maka maksudnya adalah seluruh makhluk ciptaan Allah yang ada di alam semesta baik yang diatas maupun yang di bawah, yang berakal ataupun tidak, yang basah ataupun yang kering, yang bergerak ataupun yang diam, yang nampak ataupun yang tak nampak, yang baik ataupun yang jahat. Semua itu adalah makhluk Allah. Di bawah pengurusanNya, yang masing masing memiliki bentuk dan definisi serta batasan waktu tertentu yang tak kan mungkin melebihinya walau sebutir atom.

ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui” (Q.S al-An’âm [6]:96).

Dan itulah pengaturan yang maha adil dan bijaksana.

Jika yang dimaksud adalah seorang hamba yang mencintai dan merendahkan dirinya maka ini makna yang dikhususkan kepada seorang mu’min, yang mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan dan wali-wali Allah yang bertakwa yang tidak ada rasa takut dan sedih bagi mereka.

Pertanyaan no.4

Apa makna ibadah?

Jawab:

Ibadah adalah sebuah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah baik berupa perkataan atau amalan, yang dzhahir dan bathin, serta berlepas diri dari segala sesuatu yang menafikan dan bertentangan dengan hal itu.

Pertanyaan no.5

Kapankah amalan itu akan menjadi sebuah ibadah?

Jawab:

Sebuah amalan akan menjadi sebuah ibadah jika sudah mencakup dua kesempurnaan yaitu 1. kesempurnaan cinta dan 2. kesempurnaan kerendahan atau kehinaan.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman cintanya lebih bersangatan kepada Allah” (Q.S al-Baqarah [2]:165).

Dan Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka” (Q.S al-Mu’minun [23]:57).

Dan Allahpun telah mengumpulkan perihal itu dalam firmanNya:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami” (Q.S al-Anbiya’ [21]:90).

***

Diterjemahkan oleh Imron Rosyid Astawijaya

__________________________________

[1] Hâfidhz bin Ahmad al-Hakamiy w. 1377 H, A’lâm as-Sunnah al-Mansyurah li I’tiqâd ath-Thaifah an-Nâjiyah al-Manshûrah 200 Suâl wa Jawâb fi al-Aqidah al-Islâm (Kairo: Dâr al-Furqân, Cet. Pertama 2011 M) h. 5-6.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here