BIOGRAFI IBNU QAYYIM (Tokoh Ulama Besar ASWAJA)

0
772
biografi ibnu qayyim elhijaz

AL-IMAM IBNU Al-QAYYIM

(Tokoh ulama besar ahlusunnah wal jama’ah)
Dalam kesempatan ini kita akan mengenal sosok bintang yang bercahaya dengan keilmuannya, satu diantara ulama besar dari kalangan ahlusunnah wal jamaah.
Pembahasan yang ringkas ini akan mencakup beberapa point terkait biografi beliau, seperti: latar belakangnya, nama, nasab, kunyah dan kelahirannya, perjalanan ilmiyahnya, nama-nama guru dan muridnya, karya tulisnya dan madzhabnya dalam permasalahan fiqih.

Latar belakang lingkungan ilmu dan pengetahuan

Ibnu al-Qayyim hidup pada masa dimana keilmuan islam menyebar dan berkembang dimana-mana. Dan pada saat itu Damaskus merupakan negeri yang diharumkan oleh berbagai macam ilmu dan pengetahuan. Dengan banyaknya ulama disana sehingga banyak pula para penuntut ilmu yang datang ke Damaskus untuk menuntut ilmu.
Dan sungguh mengagumkan apa yang dituliskan dalam kitab “ad-Dâris fi Târîkh al-Madâris” dalam memaparkan bagaimana majunya pendidikan islam saat itu. Sekolah-sekolah termasuk didalamnya madrasah al-Jauziyah[1] dan majelis-majelis ilmu semarak, dilengkapi dengan banyaknya perpustakaan sehingga menarik para penuntut ilmu untuk menimba ilmu disana.[2]

Nama, nasab dan kelahirannya

Kunyah beliau Abu Abdillah
Laqab beliau Syamsuddin
Nama beliau Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Saad bin Harîz bin Makkîy Zainuddîn az-Zur’îy ad-Dimasyqîy,[3] dan dikenal dengan Ibnu Qayyîm al-Jauziyah.[4]
Beliau lahir pada tanggal 7 bulan Shafar tahun 691 H,[5] dikatakan bahwa tempat lahirnya adalah Damaskus dan ada yang mengatakan di Zur’i.
Para ulama sepakat bahwa yang terkenal dengan gelar Qayyim al-Jauziyah itu adalah ayah beliau syaikh Abu Bakr bin Ayyub az-Zur’îy.
Saat itu ayah beliau adalah seorang pendiri sebuah madrasah al-Jauziyah di Damaskus dan hal itu berjalan lama hingga terkenal dengan julukan Qayyim al-Jauziyah[6] dan gelar ini terwariskan kepada keturunannya.

Perjalanan ilmiyah

Ibnu al-Qayyim adalah salah satu bintang yang bercahaya dengan keilmuannya. Dan pancaran ilmu tidaklah beliau raih melainkan dengan kesungguhan, keinginan yang kuat, niat yang benar serta kesabaran yang menyertai sejak masa kanak-kanak.
Diperkirakan bahwa Ibnu al-Qayyim duduk bersama para gurunya mulai usianya 7 tahun. Indikasi ini bisa kita pahami melihat diantara guru beliau ada yang wafat sementara beliau kurang dari 7 tahun. Dialah asy-Syihâb al-Âbir yang wafat pada tahun 697 H dimana usia Ibnu al-Qayyim saat itu menginjak 7 tahun, salah satu guru Ibnu al-Qayyim yang beliau kisahkan bahwa gurunya tersebut pernah menyebutkan tabir mimpi kepadanya. Ibnu al-Qayyim berkata:
وَسَمِعْتُ عَلَيْهِ عِدَّةَ أَجْزَاءٍ وَلَمْ يَتَّفِقْ لِي قِرَاءَةُ هَذَا الْعِلْمِ عَلَيْهِ لِصِغِرِ السِّنِّ وَاحْتِرَاِم الْمَنِيَّةِ لَهُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى.
“Dan aku pernah mendengar darinya beberapa bagian namun saat itu aku belum bisa memahaminya dikarenakan saat itu aku masih kecil dan rasa sungkan karena kemuliaannya –semoga Allah merahmatinya-“[7]
Perjalanan beliau keluar daerah dalam menuntut ilmu tidaklah terlalu terkenal, ini disebabkan karena beliau tinggal di sebuah negeri yang menjadi pusat ilmu sebaigama kita jelaskan di latar belakang lingkungan pendidikan dan ilmu pengetahuan dimana para ulama mudah dijumpai disana.
Bagaimana mungkin beliau pergi meninggalkan Damaskus sementara syaikhnya kaum muslimin lautan ilmu yang tiada susut syaikh Abu al-‘Abbas Ahmad bin Taimiyah hadir ke kota itu.[8]
Disebutkan oleh al-Muqrîzîy dalam kitab “as-Sulûk li Ma’rifati Dual al-Mulûk” bahwa beliau beberapa kali pergi ke Mesir, beliau berkata:
وَتُوفِّي الْعَلامَة شَمْسُ الدِّينِ مُحَمَّدٌ بنُ أبي بَكْرِ بن أَيُّوب الْمَعْرُوف بِابْنِ قَيِّم الجَوْزِيَة الزُّرْعِي الدِّمَشْقِي فِي ثَالِث عشر رَجَب وَمَوْلِدُه سَنَة إِحْدَى وَتِسْعين وسِتمِائَة. وبَرِعَ فِي عدَّةِ عُلُومِ مَا بَين تَفْسِير وَفِقْهٍ وعَرَبِيَةٍ وَغَيْر ذَلِك. وَلزِمَ شيخ الْإِسْلَام تَقِيّ الدّين أَحْمدُ بن تَيْمِيةَ بَعْدَ عَوْدِهِ مِن الْقَاهِرَة سنة اثْنَتَيْ عشرَة وَسَبْعمائة حَتَّى مَاتَ وَأخذ عَنهُ علما جماً فَصَارَ أحد أَفْرَاد الدُّنْيَا وَتَصَانِيفُه كَثِيرَةٌ وَقَدِمَ الْقَاهِرَةَ غَيْرَ مَرّةٍ
‘Dan ‘allâmah Syamsuddîn Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyûb Ibnu Qayyim al-Jauziyah az-Zur’îy ad-Dimasyqîy meninggal dunia pada 13 Rajab, dan lahirnya tahun 691 H. beliau piawai diberbagai ilmu seperti tafsir, fiqih, bahasa arab dan lainnya. Beliu mulâzamah (menyertai) syaikhul-islam Ibnu Taimiyah setelah kepulangannya dari Kairo tahun 712 H hingga wafatnya Ibnu Taimiyah. Ibnu Qayyim telah mengambil banyak ilmu dari Ibnu Taimiyah hingga menjadi salah satu tokoh dunia, dan karya tulisannya sangatlah banyak. Dan beliau sering datang ke Kairo.”[9]

Ibnu al-Qayyim dan Koleksi Kitab

Beliau adalah sosok ulama yang sangat perhatian dengan koleksi kitab-kitab, dan semua ini tidaklah mengherankan melihat sumber dasar referensi dalam karya-karya tulisannya beliau sangatlah banyak.
Misalnya kitab beliau “Ijtimâ’ al-Juyûsy al-Islâmiyah ‘ala ghazwi al-Mu’athilah wa al-Jahmiyah” terdapat didalamnya terdapat lebih dari seratus kitab sebagai referensinya, padahal kitab yang beliau tulis hanya terdiri dari seratus tiga puluh halaman.
Begitu juga dalam kitabnya “Ahkâmu Ahli adz-Dzimmah” beliau sebutkan kitab-kitab yang beliau nukil sekitar tiga puluh kitab, juga kitabnya “ar-Rûh” beliau nukilkan referensi sekitar tiga puluh kitab.
Ini semua adalah bukti dari hasil banyaknya beliau membaca, menelaah kitab-kitab. Bahkan beliau sendiri mengakui betapa banyaknya koleksi kitab yang beliau miliki.
Beliau katakan bahwa beliau memiliki banyak sekali kitab karya imam Ahmad, beliau berkata: “tidak ada kitab karya imam Ahmad yang tidak aku miliki kecuali sedikit saja.”
Dan banyak ulama yang mengkisahkan hal ini. Diantaranya adalah para muridnya sendiri seperti Ibnu Rajab yang mana beliau mengatakan bahwa Ibnu al-Qayyim adalah ulama yang penuh cinta, banyak tulisannya, banyak menela’ah dan sangat perhatian dalam mengkoleksi kitab yang ini tidak dilakukan oleh selain beliau.[10]
Ibnu Katsîr juga berkata bahwa Ibnu al-Qayyim sangat perhatian sekali terhadap koleksi kitab yang tidak seperti yang dilakukan oleh yang lainnya.[11]begitu juga dikatakan oleh Shiddîq al-Qanwajîy bahwa Ibnu al-Qayyim gemar mengkoleksi kitab yang belum pernah dilakukan oleh selain beliau. [12]

Pertemuan gurunya “Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah”

Ibnu al-Qayyim tiada henti menuntut ilmu hingga sampai masa perjumpaanya dengan tuan guru yang paling berkesan dalam hidupnya dialah syaikhulislam Ibnu Taimiyah. Pertemuan ini terjadi saat Ibnu Taimiyah datang dari Mesir untuk berdomisili di Damaskus yaitu pada tahun 712 H. Demikianlah berlanjut selama kurang lebih enam belas tahun Ibnu al-Qayyim belajar dari lautan ilmu gurunya hingga beliau wafat pada tahun 728 H.[13]
Setelah itu Ibnu al-Qayyim disibukkan dengan berbagai bidang keilmuan seperti imam di al-Jauziyah, mengajar, menulis, berfatwa dan lainnya. Ibnu Katsîr berkata:
هَوَ إِمَامُ الْجَوْزِيَة وَابْنُ قَيِّمِهَا
“Dia adalah imamnya al-Jauziyah dan putra sang pendirinya”
Ibnu Katsîr juga menceritakan sebuah peristiwa yang menunjukan kedudukan Ibnu al-Qayyim di al-Jauziyah, saat itu pada tahun 732 H di sebuah masjid jami’ yang didirikan oleh Najmu ad-Dîn bin Khalaikhân di hari jum’at Ibnu al-Qayyim berkhutbah di masjid tersebut. Dan itu adalah khutbah jum’an yang pertama kali dilaksanakan di masjid tersebut.[14]
Selain itu Ibnu al-Qayyim menyibukkan dirinya mengajar diberbagai madrasah dan halaqah atau majelis di masjdi seperti di madrasah ash-Shadriyah dan lainnya banyak sekali, mengingat Ibnu al-Qayyim adalah salah satu ulama yang terkenal saat itu.
Beliau juga gigih dalam berfatwa hingga beberapa fatwanya tersebut menyebabkan beliau masuk kedalam jeruji penjara. Karena kita ketahui bahwa kondisi masa dimana Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim berdakwah banyak sekali pemahaman yang dihadapi mereka dalam melakukan dakwah pembaharuan. Imam adz-Dzahabîy menyanjung tentang kegigihan Ibnu al-Qayyim dalam mengabdikan dirinya kepada Agama. Beliau berkata: “Ibnu al-Qayyim adalah salah satu murid Ibnu Taimiyah yang tersohor, beliau berfatwa, mengajar, berdiskusi, menulis dan memberikan faedah.”[15]

Guru-guru beliau

Berikut adalah nama-nama guru Ibnu al-Qayyim yang memiliki peranan dalam membentuk perkembangan daya fikir dan kematanangan ilmunya:[16]
  1. Qayyim al-Jauziyah,
Ialah merupakan ayah beliau Abu Bakr bin Ayyûb. Beliau belajar dari ayahnya ilmu farâidh yang mana ayah beliau salah satu pakar dalam ilmu tersebut.
  1. Ibnu ‘Abdi ad-Dâim,
dialah Abu Bakr, bin al-Musnid Zainuddîn Ahmad bin Abduddâim bin Ni’mah al-Maqdisîy wafat tahun 718 H.
  1. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah,
Ahmad bin Abdilhalîm bin ‘Abdissalâm an-Numairîy wafat tahun 728 H. Ibnu al-Qayyim belajar dari beliau banyak ilmu seperti tafsir, hadits, fiqih, farâidh dan ilmu kalam. Ibnu al-Qayyim terus mendampingi beliau dan menimba ilmu darinya hingga Ibnu al-Qayyim salah seorang muridnya yang faqih lagi tersohor. Secara terperinci banyak sekali kitab yang telah beliau pelajari dari Ibnu Taimiyah seperti al-Muharrar, al-Mahshûl, al-Ahkâm, al-Arbaîn, al-Muhashshal dan banyak kitab lainnya dari karya Ibnu Taimiyah sendiri. Beliau menimba ilmu dari Ibnu Taimiyah semenjak perjumpaannya yaitu saat Ibnu Taimiyah datang ke Damaskus tahun 712 H sampai wafatnya di tahun 728 H sehingga genap kurang lebihnya 16 tahun beliau belajar dengan Ibnu Taimiyah.
  1. Asy-Syihab al-‘Âbir,
Abu al-Abbâs Ahmad bin Abdirrahmân bin Abdilmun’im bin Ni’mah an-Nâblisîy wafat tahun 697 H. beliau adalah guru yang paling awal meninggal dunia, dimana umur Ibnu al-Qayyim saat itu kurang lebih 6 atau tujuh tahun. Ini jika kita hitung antara tahun kelahiran Ibnu al-Qayyim dan tahun wafatnya asy-Syihâb.
  1. Ibnu Syairâzîy,
Namun disini ada dua pendapat tentang siapa yang dimaksud dengan Ibnu Syairâzîy disini. Ada yang mengatakan dia adalah al-Musnid Zainuddîn Ibrâhîm bin Abdirrahân bin Tâjuddîn Ahmad bin al-Qâdhîy Abi Nashr bin asy-Syairâzîy wafat tahun 714 H. ada juga yang mengatakan dia adalah Kamâluddîn Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Hibatullah bin asy-Syairâzîy seorang hakim dan mengajar diberbagi madrasah wafat tahun 736 H.
  1. Al-Majd al-Harrânîy,
Ismâîl Majduddîn bin Muhammad al-Farrâ’ al-Harrânîy syaikhnya madzhab hambaliy wafat tahun 729 H. ada yang mengatakan bahwa Ibnu al-Qayyim belajar kitab al-Muqni’ dan telah membacanya sebanyak seratus kali. Selain itu beliau juga belajar farâidh (setelah Ibnu al-Qayyim belajar dari ayahnya), ilmu fiqih dengan kitab-kitab seperti kitab Mukhtashar Abi al-Qâsim al-Kharqîy, kitab al-Muqni’ karya Ibnu Qudâmah, serta belajar darinya ushûlfiqih dengan kitab Raudhatu an-Nâdzhir fi Junnat al-Manâdzhir.
  1. Ibnu Maktûm,
Abu al-Fidâ’ Shadruddîn Ismâîl bin Yusuf bin Maktûm al-Qaysîy ad-Dimasyqîy asy-Syâfi’îy wafat tahun 716 H.
  1. Al-Kuhhâl,
Zainuddîn Ayyûb bin Ni’mah an-Nâbulsîy ad-Dimasyqîy al-Kuhhâl wafat 730 H.
  1. Al-Bahâ’ Ibnu ‘Asâkir.
  2. Al-Hâkim,
Abu al-Fadhl Taqiyuddîn Sulaiman bin Hamzah bin Ahmad bin Qudâmah al-Maqdisîy al-Hanbalîy wafat 715 H.
  1. Syarifuddîn Ibnu Taimiyah,
Abu Muhammad Abdullah bin Abdulhalîm bin Taimiyah an-Numairîy, beliau adalah saudara syaikhu al-Islam Ibnu Taimiyah yang beliau agungkan. Waktu wafatnya 727 H sangatlah terkenal dimana banyak sekali yang menyolatkannya sampai-sampai suara takbir terdengar dari dalam penjara sementara syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dan Zainuddîn Abdurrahmân ikut menyolatkannya dari dalam penjara. Ibnu al-Qayyim belajar kepada beliau ilmu fiqih.
  1. Al-Wadâ’, ‘Alâuddîn al-Kindîy al-Wadâ’.
  2. Al-Mutha’im, Syarafuddîn ‘Îsa bin Abdirrahmân al-Mutha’im wafat 709 H.
  3. Bintu Jauhari,
Ummu Muhammad Fathimah bintu asy-Syaikh Ibrâhîm bin Mahmûd bin Jauhari al-Bathâihîy al-Ba’lîy al-Musnidah al-Muhadditsah wafat 711 H.
  1. Majduddîn at-Tûnisîy,
Ibnu al-Qayyim belajar darinya beberapa bagian kitab المغرب salah satu kitab dari ilmu bahasa arab.
  1. Al-badr Ibnu Jamâ’ah,
al-Qhâdhîy Badruddîn Muhammad bin Ibrahim bin Jamâ’ah al-Kinânîy al-Hamawîy asy-Syâfi’îy seorang imam terkenal yang memiliki banyak karya tulis wafat tahun 733 H.
  1. Abu al-Fathi al-Ba’labakîy,
Syamsuddîn Abu Abdillah Muhammad bin Abi al-Fathi al-Ba’lakîy al-Hanbalîy al-Faqîh al-Lughawîy an-Nahwîy wafat tahun 709 H. Ibnu al-Qayyim belajar padanya bahasa arab dan fiqih diantaranya kitab al-Mulakhas karya Abu al-Baqâ’ , kemudian kitab al-Jurjâniyah karya Abdulqâdir al-Jurjânîy, kemudian kitab Alfiyah Ibnu Malik, al-Kâfiyah asy-Syâfiyah dan membaca sebagian kitab at-Tashîl yang keduanya ini merupakan karya Ibnu Malik juga.
  1. Ibnu syahwân.
  2. Adz-Dzahabîy, Abu Abdillah al-Hâfidzh Muhammad bin Ahmad bin Utsmân.
  3. Ash-Shafîy al-Hindîy,
Shafiyûddîn Muhammad bin Abdirrahîm bin Muhammad al-Armawîy asy-Syâfi’îy al-Faqîh al-Ushûlîy wafat 715 H. Ibnu al-Qayyim belajar dari beliau dua dasar ilmu, ushulfiqih dan tauhid dan membaca kitab darinya al-Arba’în dan al-Mahshal.
  1. Az-Zamlakânîy,
Abu al-Ma’âlîy Kamâluddîn Muhammad bin Ali bin Abdulwâhid al-Anshârîy asy-Syâfi’îy putra dari khatib Zamlaka wafat tahun 727 H.
  1. Ibnu Muflih,
Abu Abdillah Syamsuddîn Muhammad bin Muflih bin Muhammad bin Mufrij al-Maqdisîy al-Hanbalîy. Ibnu al-Qayyim mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih mengerti tentang madzhab imam Ahmad dari Ibnu Muflih, dia telah berguru kepada syaikhul-islam Ibnu Taimiyah. Dan Ibnu al-Qayyim seringkali merujuk pembahasan-pembahasannya kepada pendapat yang dipilih oleh Ibnu Muflih, beliau wafat tahun 763 H.
  1. Al-Mizzîy,
Jamâluddîn Yusuf bin Zakiyuddîn Abdurrahmân al-Qadhâ’îy al-Kalbîy ad-Dimasyqîy asy-Syâfi’îy wafat tahun 742 H. Ibnu al-Qayyim berpegang kepada pendapatnya dan banyak sekali menukil beliau dengan ungkapan “syaikhuna” dalam kitab-kitabnya terkhusus dalam perihal hadits dan perawinya.

Murid-murid beliau

Ibnu al-Qayyim memiliki banyak murid-murid yang mana menjadi mat-rantai warisan keilmuannya, yang terkenal diantaranya:
  1. Al-Burhan bin Qayyim al-Jauziyah, dia adalah putranya yang bernama Ibrahim. Belaiau belajar hingga menguasai ilmu fiqih dan bahasa arab dari ayahnya.
  2. Ibnu Katsîr, Abu al-Fidâ’ Ismail bin Umar bin Katsîr al-Qurasyîy asy-Syâfi’îy wafat 774 H. seorang telah berguru kepada Ibnu Taimiyah, Ibnu al-Qayyim, al-Mizzîy dan menikah dengan putri al-Mizzîy. Ibnu Katsir berkata tentang Ibnu al-Qayyim:
وَكُنْتُ مِنْ أَصْحَبِ النَّاسِ لَهُ، وَأَحَبِّ النَّاسِ إِلَيْهِ، وَلَا أَعْرِفُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي زَمَانِنَا أَكْثَرَ عِبَادَةً مِنْهُ، وَكَانَتْ لَهُ طَرِيقَةٌ فِي الصَّلَاةِ يُطِيلُهَا جِدًّا، وَيَمُدُّ رُكُوعَهَا وَسُجُودَهَا، وَيَلُومُهُ كَثِيرٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ فَلَا يَرْجِعُ،
“dan aku adalah salah satu orang yang paling sering mendampingi beliau dan orang yang paling mencintai beliau, sepengetahuanku tidak ada ahli ilmu dizaman kami yang paling banyak ibadahnya dibanding beliau. Beliau memiliki tata cara shalat yaitu melakukannya dengan lama sekali, memanjangkan rukuk dan sujudnya yang terkadang dicela oleh yang lainnya namun beliau tidak menghiraukannya”[17]
  1. Ibnu Rajab, Abu al-Farj Zainuddîn Abdurrahmân bin Ahmad bin Abdirrahmân Rajab al-Hanbalîy wafat 795 H. beliau mendampingi Ibnu al-Qayyim dan menimba ilmu darinya sebelum beliau wafat. Dikatakan bahwa Ibnu Rajab mendengar qasidah an-Nûniyah dari gurunya selama setahun karena panjangnya qasidah tersebut. Dan belajar dari beberapa kitab lain karya Ibnu al-Qayyim sendiri.[18]
  2. Syarafuddîn Ibnu Qayyim al-Jauziyah, putra Ibnu al-Qayyim yang bernama Abdullah. Ibnu Hajar mengatakan bahwa beliau sibuk belajar kepada ayahnya dan guru lainnya.
  3. As-Subkîy, Ali bin Abdilkâfîy bin Ali bin Tamâm as-Subkîy Taqiyuddîn wafat 756 H. beliau adalah ulama yang suka mengembara untuk mencari ilmu terutama hadits hingga ke daerah Syam, Hijaz dan Mesir. Dan saat beliau di Syam beliau belajar dari banyak guru, diantarannya adalah Ibnu al-Qayyim.[19]
  4. Adz-Dzahabîy, Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsmân bin Qâymâz adz-Dzahabîy at-Turkumânîy.
  5. Ibnu Abdilhâdi, Abu Abdillah Syamsuddîn Muhammad bin Ahmad bin Abdilhâdi bin Qudâmah al-Maqdisîy wafat tahun 744 H.
  6. An-Nâbulsîy, Abu Abdillah Syamsuddîn Muhammad bin Abdulqâdir bin Muhyiddîn ‘Utsmân al-Hanbalîy yang dikenal dengan al-Jannah wafat tahun 797 H. Ibnu al-‘Imâd mengatakan bahwa beliau belajar kepada Ibnu al-Qayyim dari banyak kitab-kitab karyanya.[20]
  7. Al-Ghazîy, Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin al-Khidr al-Ghazîy wafat tahun 808 H. Imam asy-Syaukânîy mengatakan bahwa al-Ghâzîy masuk ke Damaskus dan belajar kepada Ibnu Katsîr, as-Subkîy, Ibnu al-Qayyim dan lainnya.[21]
  8. Muhammad bin Ya’kub bin Muhammad Muhyiddîn Abu ath-Thâhir al-Fayrûz Âbâdîy asy-Syâfi’îy wafat 817 H. Beliau datang ke Damaskus dan bertemu dengan as-Subkîy dan lainnya termasuk Ibnu al-Qayyim.[22] Dan lainnya yang begitu banyak murid-murid Ibnu al-Qayyim.

Karya ilmiyah beliau

Ibnu al-Qayyim merupakan salah satu ulama yang sangat produktif dalam menulis karya. Jika kita kumpulkan seluruh kitab karya beliau tentulah sudah akan memenuhi ruang sebuah perpustakaan. Banyaknya karyanya diantaranya dikarenakan beliau hampir menulis segala bidang diberbagai disiplin ilmu.
Namun demikian sering terjadi beberapa kekeliruan dalam menyandar sebuah nama kitab kepada Ibnu al-Qayyim sebagai penulisnya, diantara sebabnua antara lain:
  1. Terkadang Ibnu al-Qayyim memberi nama kitabnya namun dikesempatan lain beliau tunjukkan kitab tersebut dengan temanya bukan dengan nama kitab tersebut. Misalnya yang terjadi pada kitab yang beliau beri nama dimuqadimahnya dengan kitab “Jalâ’u al-Afhâmâ fi ash-Shalâti wa as-Salâm ‘ala khairi al-Anâm”. Namun beliau sempat menyebutkan kitab ini didalam kitab Badâi’ al-fawâid dengan nama kitab “Ta’dzîm sya’ni ash-Shalâti ‘ala an-Nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.Sehingga membuat orang mengira bahwa ini adalah kitab yang berbeda.
  2. Terkadang nama kitabnya terbentuk dari dua kata majemuk atau lebih. Contoh pada kitab “Raudhatu al-Muhibbîn wa Nuzhatu al-Musytâqîn”, ada sebagian yang salah memahami dari nama kitab tersebut bahwa nama itu dari dua kitab yaitu kitab “Raudhatu al-Muhibbîn” dan kitab “Nuzhatu al-Musytâqîn”. Padahal yang benar nama tersebut untuk sebuah kitab saja.
  3. Terkadang Ibnu al-Qayyim sendiri tidak memberi nama pada kitab karya, kemudian penerbit atau percetakan berupaya memberinya nama. Sehingga terjadi perbedaan antar penerbit dalam memberi nama kitab tersebut. Contohnya yang terjadi pada “ad-Dâ’ wa ad-Dawâ'”, tidak ada yang menukilkan bahwa nama tersebut ditetapkan oleh Ibnu al-Qayyim. Sehingga ada yang menyebut nama kitab tersebut dengan “al-Jawâbu al-Kâfiy liman sa’ala ‘an ad-Dawâ’ asy-Syâfîy”. Dan akhirnya banyak yang mengira dua nama tersebut adalah dua kitab yang berbeda.
  4. Terkadang kesalahan ini berawal dari penelitian seorang ulama yang menetapkan sebuah nama bab dari karya Ibnu al-Qayyim sementara yang lain mengganggapnya sebagai nama sebuah kitab. Contohnya pada sebuah nama yang tersebar dengan “Bulûghu as-Saul Aqdhiyati ar-Rasûl”, ini bukanlah nama dari sebuah kitab karya Ibnu al-Qayyim melainkan satu topik pembahasan dalam kitab “I’lâmu al-Muwaqqi’în ‘an rabbil’âlamîn”.
  5. Sebab lainnya adalah kesalahan yang disengaja oleh sebuah percetakan yang memberi nama baru pada salah satu karya beliau sehingga seseorang yang mendengar nama baru tersebut tertarik untuk membelinya.
  6. Banyaknya kesalahan yang terletak pada kesalahpahaman dan tertukarnya nama beliau dengan nama Ibn al-Jauzîy. Misalnya pada kitab “Daf’u syubahi at-Tasybîh”.
Dari beberapa sebab inilah sering terjadi kesalahan penyandaran sebuah kitab kepada Ibnu al-Qayyim.[23]
Berikut adalah sebagian kitab-kitab karya beliau yang terkenal;
  1. Madâriju as-Sâlikîn.
  2. Hâdi al-Arwâh fi bilâdi al-Afrâh.
  3. Ar-Rûh.
  4. Tharîqu al-Hijratain.
  5. I’lâm al-Muwaqqi’în ‘an rabbi al-‘Âlamîn.
  6. Ijtimâ’u al-Juyûs al-Islamiyah.
  7. Ath-Thuruq al-Hukmiyah fi as-Siyâsah asy-Syar’iyah.
  8. Tuhfatul maudûd fi Ahkâmi al-Maulûd.
  9. Ahkâmu ahli adz-Dzimmah.
  10. Ath-Thibb an-Nabawiy.
  11. Miftâhu dâr as-Sa’âdah.
  12. Ash-Shawâiq al-Mursalah fi ar-Radd ‘ala al-Jahmiyah wa al-Muathilah.
  13. Akhbâru an-Nisâ’.
  14. Ash-shalah.
  15. Al-Wâbilu ash-Shaib min al-Kalâm ath-Thayyib.
  16. Zâdu al-Ma’âd fi hadyi khairi al-‘Ibâd.
  17. ‘Iddatu ash-Shâbirîn.
  18. Al-Jawâbu al-kâfi liman sa’ala ‘ani ad-Dawâ’ asy-Syâfi.
  19. Al-Fawaid.
  20. Al-Fawâid al-Musyawaq ila ulûmi Al-Qur’an
  21. At-Tibyân fi aqsâm Al-Qur’an. Dan lainnya.

Madzhab fiqih

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah adalah ulama yang di golongkan kedalam ulama al-Hanbalîy seperti yang dituliskan oleh muridnya Ibnu Rajab dalam kitabnya “dzîl thabaqât al-Hanâbilah” dan yang ditulis oleh muridnya ash-Shafadîy dalam kitabnya “al-Wâfîy bi al-Wafayât”.
Namun pada hakikatnya beliau adalah ulama yang berijtihad dan cenderung tidak terikat dengan satu madzhab. Karena madzhabnya adalah mengikuti apa yang dikuatkan oleh dalil.
Dan beliau adalah salah satu ulama yang berusaha mengikis fanatisme madzhab dizamannya dengan selalu mengadakan diskusi ilmiyah antara taqlid dan mengikuti dalil dan menganggap bahwa fanatisme taqlid terhadap madzhab adalah bid’ah.[24]
Namun demikian beliau tetap netral dan tidak terlalu ekstrim dalam memojokkan para imam madzhab atau mencela mereka apalagi menganggapnya telah melakukan sebuah dosa. Ini Nampak sekali saat beliau mengungkapkan sikapnya terhadap mereka, beliau berkata:
وَالثَّانِي: مَعْرِفَةُ فَضْلِ أَئِمَّةِ الْإِسْلَامِ وَمَقَادِيْرِهِمْ وَحُقُوْقِهِمْ وَمَرَاتِبِهِمْ.
وَأَنَّ فَضْلَهُمْ وَعِلْمَهُمْ وَنَصْحَهُمْ لله وَرَسُوْله لَا يُوجِبُ قَبُولَ كُلَّ مَا قَالُوه وَمَا وَقَعَ فِي فَتَاوَيهُمْ مِنَ الْمَسَائِلِ الَّتِي خَفِىَ عَلَيْهِمْ فِيهَا مَا جَاءَ بِهِ الرَّسُول فَقَالُوا بِمَبْلَغِ عِلْمِهِم وَالحَق فِي خِلَافِهَا لَا يُوجِبُ اِطْرَاحَ أَقْوَالِهِمْ جُمْلَةً.
“Kedua: tentang mengenal keutamaan, kemampuan, hak-hak serta kedudukan para imam islam. bahwasanya keutamaan mereka, keilmuan mereka dan nasihat mereka tidaklah menjadi dalil untuk menerima seluruh ucapan mereka yang tidak sesuai dengan apa yang dibawakan Rasulullah. Begitu juga penyelisihan merekapun tidak menjadi dalil tolak ukur atau alasan kita untuk membuang perkataan mereka secara keseluruhan.”[25]
Begitulah secara ringkas kesimpulah madzhab Ibnu al-Qayyim dalam permasalahan fiqih dan semisalnya yaitu mengikuti apa yang dikuatkan oleh dalil dan tidak terikat dengan madzhab tertentu. Meskipun sebagian ulama seperi Ibnu Hajar dalam sebuah kitabnya mengatakan:
وَكَانَ جَرِئَ الِجنَانِ وَاسِعَ العِلْمِ عَارِفًا بِالخِلَافِ وَمَذَاهِبِ السَّلَف وَغَلَبَ عَلَيْهِ حُبُّ ابنِ تَيْمِيَّةَ حَتَّى كَانَ لَا يَخْرجُ عَنِ شَئٍ مِنْ أَقْوَالِهِ بَلْ يَنْتَصِرُ لَهُ فِي جَمِيْعِ ذَلِكَ وَهُوَ الَّذِى هَذَّبَ كُتُبَه وَنَشَرَ عِلْمَهُ.
“Beliau (Ibnu al-Qayyim) adalah seorang yang pemberani, luas ilmunya, mengetahui perbedaan dan madzhab-madzhab salaf. Cintanya kepada Ibnu Taimiyah telah menguasainya hingga tidak pernah keluar dari pendapat gurunya bahkan membelanya. Dialah yang merevisi kitab-kitab Ibnu Taimiyah dan menyebarkan ilmunya.”[26]
Namun siapa saja yang menelaah buku-buku beliau akan jelas baginya bahwa apa yang katakan Ibnu Hajar tidak sepenuhnya benar, karena Ibnu al-Qayyim adalah ulama yang objektif dalam berprinsip.[27]

Wafatnya

Beliau wafat pada waktu isya’ dimalam kamis tanggal 13 Rajab tahun 751 H dan dishalatkan keesokan harinya setelah shalat dzhuhur kemudian dimakamkan dipemakaman al-Bâb ash-Shaghîr yang dihadiri oleh banyak manusia.
Salah satu murid beliau yaitu Ibnu Rajab menceritakan bahwasanya sebelem beliau wafat sempat bermimpi berjumpa dengan Ibnu Taimiyah.
Ibnu Rajab berkata:
وَرُئِيَتْ لَهُ مَنَامَاتٌ كَثِيْرَةٌ حَسَنَةٌ رَضِيَ الَلَّه عَنْهُ. وَكَانَ قَدْ رَأَى قَبْلَ مَوْتِهِ بِمدَّةٍ الشَيْخَ تَقيَ الدِّيْن رَحِمَه الَلَّه فِي النَّوْمِ، وَسَأَلَهُ عَن مَنْزِلَتِهِ؟ فَأَشَارَ إِلَى عُلُوِّهَا فَوْقَ بَعْضِ الْأَكَابِر. ثُمَّ قَالَ لَهُ: وَأَنْتَ كِدْتَ تَلْحَقُ بِنَا، وَلَكِنَّ أَنْتَ الآن فِي طَبَقَةِ ابْنِ خُزَيْمَةَ رحمه الَلَّه.
“Beliau sering bermimpi indah, dan beberapa saat sebelum wafatnya beliau bermimpi berjumpa dengan Ibnu Taimiyah. Beliau bertanya kepada Ibnu Taimiyah tentang kedudukannya. Lalu Ibnu Taimiyah menunjukan tingginya kedudukannya yaitu diatas sebagian ulama besar. Kemudian Ibnu Taimiyah berkata: engkau hampir mencapai kedudukan kami, namun engkau sekarang berada di tingkatan Ibnu Khuzaimah.”[28]
Semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepada beliau dan dikumpulkan bersama nabi, syuhada dan shalihin.

*****

Ditulis oleh Imron Rosyid Astawijaya

Pengasuh EL-HIJAZ Islamic and Arabic School

KDW, Ciracas Jakarta Timur

=============================

Referensi primer: Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Ibnu Qayyim al-Jauziyah hayâtuhu Âtsâruhu Mawârîduhu, (Riyadh: Dâr al-‘Âshimah, Cet kedua 1423 H)

[1] Abdulqâdir bin Muhammad an-Nu’aimîy, ad-Dâris fi Târîkh al-Madâris, (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, Cet. 1990 M) h. 23, Jilid 2.

[2] Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Ibnu Qayyim al-Jauziyah hayâtuhu Âtsâruhu Mawârîduhu, (Riyadh: Dâr al-‘Âshimah, Cet kedua 1423 H) h. 56.

[3] Zainuddîn Abdurrahmân bin Ahmad bin Rajab bin al-Hasan as-Salâmîy al-Baghdâdîy, Dzîl thabaqât al-Hanâbilah, (Riyadh: Maktabah al-‘Abîkân, Cet. 2005 M) h. 170, Jilid 5.

[4] Ada perbedaan tentang penyebutan Ibnu Qayyim, diantara ulama muta’akhirin menyebutnya dengan Ibnu al-Qayyim dengan menggunakan “al” (ابن القيم). Dan ada yang terjatuh kepada kekeliruan penyebutannya tertukar dengan ibnu al-Jauzîy. Dan Al-Madrasah al-Jauziyah adalah salah satu madrasah madzhab hanbaliy yang terbesar didaerah Damaskus Syâm saat itu. lihat: Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Ibnu Qayyim al-Jauziyah hayâtuhu Âtsâruhu Mawârîduhu, (Riyadh: Dâr al-‘Âshimah, Cet kedua 1423 H) h. 23.

[5] Shalâhuddîn Khalîl bin Abîk bin Abdullah ash-Shufdîy, al-Wâfîy bi al-Wafayât, (Beirut: Ihyâ at-Turâts, Cet. 2000 M) h. 195, Jilid 2.

[6] ‘Imâduddîn Abu al-Fidâ’ Ismâîl bin Umar bin Katsîr al-Qurasyîy ad-Dimasyqîy, al-Bidâyah wa an-Nihâyah, (al-Jizah: Hajar, Cet. 1997 M) h. 235, Jilid 18.

[7] Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub az-Zur’îy ad-Dimasyqîy Ibnu al-Qayyim, Zâd al-Ma’âdz fi hadyi khairi al-‘Ibâd, (Beirut: Maktabah al-Mannâr, Cet. Keempat, 1986 M) h. 536, Jilid 3.

[8] Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Ibnu Qayyim al-Jauziyah hayâtuhu Âtsâruhu Mawârîduhu, (Riyadh: Dâr al-‘Âshimah, Cet kedua 1423 H) h. 57.

[9] Ahmad bin Ali bin Abdulqadîr Taqiyuddîn al-Muqrizîy, as-Sulûk li Ma’rifat Dual al-Mulûk, (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, Cet. 1997 H) h. 132, Jilid 4.

[10] Zainuddîn Abdurrahmân bin Ahmad bin Rajab bin al-Hasan as-Salâmîy al-Baghdâdîy, Dzîl thabaqât al-Hanâbilah, (Riyadh: Maktabah al-‘Abîkân, Cet. 2005 M) h. 174, Jilid 5.

[11] ‘Imâduddîn Abu al-Fidâ’ Ismâîl bin Umar bin Katsîr al-Qurasyîy ad-Dimasyqîy, al-Bidâyah wa an-Nihâyah, (al-Jizah: Hajar, Cet. 1997 M) h. 235, Jilid 18.

[12] Abu ath-Thayyib Muhammad Shiddîq Khân al-Qinnawajîy, at-Tâj al-Mukallal min Jawâhiri Ma’âtsiri ath-Thirâz al-Âkhir wa al-Awwal, (Qatar: Wijâratu al-Awqâf wa asy-Syu’ûn al-Islâmiyah, Cet. 2007 M) h. 411, Jilid 1.

[13] Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Ibnu Qayyim al-Jauziyah hayâtuhu Âtsâruhu Mawârîduhu, (Riyadh: Dâr al-‘Âshimah, Cet kedua 1423 H) h. 130.

[14] ‘Imâduddîn Abu al-Fidâ’ Ismâîl bin Umar bin Katsîr al-Qurasyîy ad-Dimasyqîy, al-Bidâyah wa an-Nihâyah, (al-Jizah: Hajar, Cet. 1997 M) h. 384, Jilid 18.

[15] Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsmân bin Qaymâz adz-Dzahabîy, al-‘Ibar fi khabar min ghabar, (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, tt.) h. 155, Jilid 4.

[16] Lihat: Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Ibnu Qayyim al-Jauziyah hayâtuhu Âtsâruhu Mawârîduhu, (Riyadh: Dâr al-‘Âshimah, Cet kedua 1423 H) h. 161-178.

[17] ‘Imâduddîn Abu al-Fidâ’ Ismâîl bin Umar bin Katsîr al-Qurasyîy ad-Dimasyqîy, al-Bidâyah wa an-Nihâyah, (al-Jizah: Hajar, Cet. 1997 M) h. 523, Jilid 18.

[18] Zainuddîn Abdurrahmân bin Ahmad bin Rajab bin al-Hasan as-Salâmîy al-Baghdâdîy, Dzîl thabaqât al-Hanâbilah, (Riyadh: Maktabah al-‘Abîkân, Cet. 2005 M) h. 173, Jilid 5.

[19] Al-Hâfidzh Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad al-‘Asqalânîy, ad-Durar al-Kâminah fi A’yâni al-Miati ats-Tsâminah, (India: Dairatu al-Ma’ârif al-‘Utsmâniyah, Cet. 1972 M) h. 74, Jilid 4.

[20] Abdulhayyi bin Ahmad bin Muhammad bin al-‘Imâd, Syadzarâtu adz-Dzahab fi Akhbâr min Dzahab, (Beirut: Dâr Ibnu Katsîr, Cet. 1986 M) h. 596, Jilid 8.

[21] Muhammad bin Ali asy-Syaukânîy, al-Badru ath-Thâli’ bimahâsini man ba’da al-Qarni as-Sâbi’, (Beirut: Dâr al-Ma’rifah, tt) h. 254, Jilid 2.

[22] [22] Muhammad bin Ali asy-Syaukânîy, al-Badru ath-Thâli’ bimahâsini man ba’da al-Qarni as-Sâbi’, (Beirut: Dâr al-Ma’rifah, tt) h. 280, Jilid 2.

[23] Lihat: Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Ibnu Qayyim al-Jauziyah hayâtuhu Âtsâruhu Mawârîduhu, (Riyadh: Dâr al-‘Âshimah, Cet kedua 1423 H) h. 186-187.

[24] Lihat: Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Ibnu Qayyim al-Jauziyah hayâtuhu Âtsâruhu Mawârîduhu, (Riyadh: Dâr al-‘Âshimah, Cet kedua 1423 H) h. 186-187.

[25] Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyûb Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah, ‘I’lâmu al-Muwaqi’în ‘an Rabbi al-‘Âlamîn, (Kairo: Maktabah al-Kulliyât al-Azhariyah, Cet. 1968 M) h. 283, Jilid 3.

[26] Al-Hâfidzh Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad al-‘Asqalânîy, ad-Durar al-Kâminah fi A’yâni al-Miati ats-Tsâminah, (India: Dairatu al-Ma’ârif al-‘Utsmâniyah, Cet. 1972 M) h. 138, Jilid 5.

[27] Lihat: Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Ibnu Qayyim al-Jauziyah hayâtuhu Âtsâruhu Mawârîduhu, (Riyadh: Dâr al-‘Âshimah, Cet kedua 1423 H) h. 139.

[28] Zainuddîn Abdurrahmân bin Ahmad bin Rajab bin al-Hasan as-Salâmîy al-Baghdâdîy, Dzîl thabaqât al-Hanâbilah, (Riyadh: Maktabah al-‘Abîkân, Cet. 2005 M) h. 176, Jilid 5.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here