PENTINGNYA BAHASA ARAB

0
397
pentingnya-bahasa arab elhijaz

Pentingnya Bahasa Arab

Ketahuilah -semoga Allah merahmati kita-, Bahwasnya ilmu kaidah bahasa arab adalah salah satu kunci memahami agama yang tersimpul dalam al-Qur’an dan al-Hadits.

Allah berfirman:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya kami menurunkannya berupa al-Qur’an yang berbahasa arab agar kalian berakal -memahaminya-“_(Q.S: Yusuf[12] :2)

Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata:

وذلك لأن لغة العرب افصح اللغات وابينها واوسعها واكثرها تأدية للمعان التي تقوم بالنفوس، فلذلك انزل اشرف الكتب باشرف اللغات على اشرف الرسل بسفارة اشرف الملائكة وكان ذلك في اشرف بقاع الأرض وابتداء انزاله في اشرف شهور السنة وهو رمضان[1]

“Itu dikarenakan bahwa bahasa arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas dan paling luas serta paling banyak menuangkan makna-makna. Oleh karenanyalah Allah turunkan kitab yang paling mulia ini dengan bahasa yang paling mulia kepada rasul yang paling mulia dwngan perantara malaikat yang paling mulia, dibelahan bumi yang paling mulia dibulan yang paling mulia yaitu ramadhan”

Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata:

فإن الله لما انزل كتابه باللسان العربي و رسوله مبلغا عنه للكتاب والحكمة بلسانه العربي وجعل السابقين الى هذا الدين متكلمين به،


“Sesungguhnya tatkala Allah menurunkan kitabNya dengan lisan arab, dan rasulNya menyampaikan kitab dan hikmah dariNya dengan lisannya yang berbahasa arab, dan Allah jadikan para pendahulu agama ini (shahabat) bertutur kata dengan bahasa arab

لم يكن سبيل الى ضبط الدين ومعرفته الا بضبط هذا اللسان، وصار معرفته من الدين[2]

“Tidak ada jalan untuk mengokohkan dan mengetahui agama ini kecuali dengan mengokohkan lisan ini (bahasa arab), maka pengetahuan terhadap bahasa arab adalah bagian dari agama”

Al-Imam asy-Syafi’iy -rahimahullah-berkata:

من تبحر في النحو اهتدى الى كل العلوم

“Siapa saja yang mendalami kaidah bahasa arab (nahwu) maka dia akan ditunjuki kesegala ilmu”

لا أسأل عن مسألة من المسائل الفقه الا أجبت عنها من قواعد النحو[3]

“Tidaklah aku ditanya tentang sebuah permasalahan fiqih kecuali aku menjawabnya dari kaidah-kaidah nahwu”
Beliau juga berkata:

ما اردت منها -يعني العربية- الا للاستعانة على الفقه[4]

“Tidaklah aku inginkan darinya -yaitu bahasa arab- kecuali untuk membantuku dalam masalah fiqih”

Ibnu Jinniy -rahimahullah- berkata:

إن اكثر من ضل من اهل الشريعة عن القصد فيها وحاد عن الطريقة المثلى فانما استهوى واستخف حلمه، ضعفه في هذه اللغة الكريمة الشريف[5]

“Sesungguhnya kebanyakan orang tersesat dari tujuannya dalam mempelajari syariat ini dan menyimpang dari jalan yang utama, tidak lain dikarenakan lemahnya dia terhadap bahasa yang mulia ini”

Imam as-Suyuthiy -rahimahullah- menukilkan perkataan Mujahid -rahimahullah- beliau berkata:

لا يحل لأحد يؤمن بالله واليوم الآخر أن يتكلم في كتاب إذا لم يكن عالما بلغات العرب[6]

“Tidaklah halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berbicara tentang kitabullah, jika dia tidak mengetahui bahasa arab”

ar-Raziy –rahimahullah- berkata:
“Tatkala rujukan untuk mengetahui syariat kita adalah al-Qur’an dan al-Hadits yang datang dengan bahasa orang arab -nahwu dan sorof mereka- maka ilmu agama kita terpaku pada ilmu ini,” Kemudian beliau berkata:

وما لايتم الواجب المطلق الا به، وكان مقدورا للمكلف فهو واجب[7]

“dan apapun yang tidak sempurna dikatakan wajib mutlaq kecuali dengan adanya sesuatu itu, sedang sesuatu itu mampu dilakukan, maka sesuatu itu hukumnya wajib”

Maksudnya adalah:
Bahwasanya memahami al-Qur’an dan as-Sunnah adalah wajib, sementara al-Qur’an dan as-Sunnah tidak bisa difahami kecuali dengan memahami kaidah bahasa arab. Maka mempelajari bahasa arab menjadi wajib.

Allahu A’lam

Disusun oleh: Imron Rosyid Astawijaya

[1] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adhzim, (Riyadh-KSA: Dar Thayyibah, Cet. 2009 M.) h. 365, Juz 5.

[2] Ibnu Taimiyah, Iqtidha’ ash-Shirat al-Mustaqim, (Riyadh-KSA: Dar al-Fadhilah, Cet. 2003 M) h. 268.

[3] Ibn ‘Ammad, Syadzarat adz-Dzahab, (Dimaskus: Dar Ibnu Katsir, Cet. 1406 H) h. 321, Juz 1.

[4] adz-Dzahabiy, Siyar a’lam an-nubala’, (Kairo-Mesir: Dar al-Hadits, Cet. 2006 M.) h. 268, Juz 8.

[5] Ibnu Jinniy, al-Khashâish, (Beirut: Dar Alam al-Kutub) h. 245, Juz 3.

[6] as-Suyuthiy, al-Ithqân,(Kairo-Mesir: Dar al-Hadits, Cet. 2006 M) h. 464, Juz 4.

[7] ar-Raziy, al-Mahshul fi Ilmi al-Ushul, hal. 275, Juz 1, Penerbit, (Riyadh-KSA: Jamiatu al-Imam Muhammad bin Suud al-Islamiyah, Cet. 1400 M) h. 275, Juz 1.

Lihat: “at-Ta’liqat al-Jaliyyah ala syarhi al-Muqadimah al-Ajurumiyah”_, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hal. 33-49, Penerbit Dar al-Aqidah, Kairo-Mesir, Cet. 2004 M.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here