MEMPERBANYAK PUASA DI BULAN SYA’BAN

0
167

SUNNAH MEMPERBANYAK PUASA DI BULAN SYA’BAN

Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat memasuki bulan sya’ban beliau berpuasa sebagian besar waktu dari bulan tersebut, hal tersebut dijelaskan oleh Âisyah –radhiyallahu ‘anha-;

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ. (صحيح البخاري: 1969, باب صوم شعبان)[1]

“Tidaklah aku melihat Rasulullah menyempurnakan puasa dalam sebulan kecuali bulan ramadhan, dan tidaklah aku melihat puasa yang paling banyak beliau lakukan selain dari bulan sya’ban.” (H.R al-Bukharî no. 1969, bab puasa sya’ban).

Dalam hadits lain Âisyah –radhiyallahu ‘anha- berkata:

لمَ أرَه صَائِماً مِنْ شهرٍ قطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شعبانَ، كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كلَّه، كَانَ يَصُوْمُ شَعْبَانَ إِلَّا قَلِيْلاً. (صحيح مسلم: 1156, كتاب الصيام)[2]

“Tidaklah aku melihatnya (rasulullah) paling sering berpuasa di suatu bulan melebihi puasanya di bulan sya’ban, beliau berpuasa sya’ban seluruhnya, beliau puasa sya’ban kecuali sedikit (sedikit hari yang beliau tidak puasa di bulan sya’ban).” (H.R Muslim no. 1156, kitab puasa)

Imam an-Nawawîy menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “beliau berpuasa sya’ban seluruhnya…” adalah beliau berpuasa di sebagian besar hari-hari bulan sya’ban.[3]

TATA CARA PUASA SYA’BAN

Tidak ada perbedaan antara tata cara puasa sya’ban dan puasa sunnah lainnya, cukup memulainya dengan niat di hati bahwa kita besok hari hendak berpuasa sunnah. Itupun tanpa diucapkan dengan lafadz-lafadz tertentu.

Imam asy-Syairâzîy mengatakan bahwa ibadah seperti puasa tidaklah sah jika tanpa niat, dan niat itu letaknya di hati. Cukup berniat dengan hatinya, karena niat adalah apa yang dimaksudkan oleh hati.[4]

Imam Nawawiy menambahkan dalam penjelasannya bahwa pendapat sebagian madzhab kami (madzhab Syafi-îy) yang menyatakan tidak sah kecuali harus digabungkan antara hati dan ucapan maka pendapat ini salah. Karena yang dimaksud oleh Imam Syafi-îy dengan niat yang diucapkan pada shalat adalah takbir (bukan lafadz niat tertentu).[5]

JUMLAH HARI YANG DISUNNAHKAN BERPUASA

Tidak ada batasan berapa hari hendaknya kita perbanyak puasa sunnah di bulan sya’ban ini, karena hal itu disesuaikan dengan kemampuan kita. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ وَكَانَ يَقُولُ خُذُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا… (صحيح البخاري:1970, باب صوم شعبان). [6]

“Nabi tidak pernah berpuasa sebanyak puasanya di bulan sya’ban, beliau berpuasa seluruhnya. Dan beliau bersabda: lakukanlah amalan yang kalian mampu, sesungguhnya Allah tidak akan bosan hingga kalianlah yang bosan…”.(H.R Bukharî no. 1970, bab puasa sya’ban)

Sebagian ulama mengatakan bahwa sebaik-baiknya puasa adalah seperti puasa Dawud yaitu puasa yang berselang sehari berpuasa dan sehari tidak, sehari berpuasa dan sehari tidak dan begitu seterusnya.

Namun tetap dengan syarat hal itu tidak membuatnya lalai dari sesuatu yang menjadi kewajibannya, seperti lalai dari menafkahi keluarganya disebabkan puasa sunnah tersebut maka itu tidak boleh.[7]  

HIKMAH PUASA SYA’BAN

Ibnu Hajar mengatakan bahwa ada beberapa hikmah disyariatkannya memperbanyak puasa sunnah di bulan sya’ban, seperti pengagungan dalam menyambut bulan ramadhan, memberi waktu bagi wanita yang hendak mengqadha’ puasa dan pendapat lainnya. Namun hikmah yang beliau kuatkan adalah karena bulan sya’ban adalah bulan diangkatnya amalan seorang hamba, sesuai dengan sabda rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits berikut:[8]

ذلِكَ شَهْرٌ يَغفُلُ النَّاسُ عنهُ بينَ رجبٍ ورمضانَ، وَهوَ شَهْرٌ تُرفَعُ فيهِ الأعمالُ إلى ربِّ العالمينَ، فأحبُّ أن يُرفَعَ عمَلي وأَنا صائمٌ. (سنن النسائي: كتاب الصيام)[9]

“Yang demikian itu karena sya’ban adalah bulan di mana manusia banyak lalai darinya yaitu di antara rajab dan ramadhan, dan sya’ban adalah bulan yang amalan-amalan dinaikkan kepada rabbul-‘alamîn, maka aku menyukai jika amalanku diangkat pada saat aku dalam kondisi sedang berpuasa.” (H.R an-Nasâî, kitab puasa)

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk dapat mengamalkan puasa sunnah di bulan sya’ban ini, Amin.


Ditulis oleh:

Ust. Imron Rosyid, Lc.MA.

Ma’had El-Hijaz, Cibubur Jakarta Timur

09 Sya’ban 1441 H/02 April 2020

[1] Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari (194-256 H), Shahîh al-Bukhârîy, (Kairo: Maktabah al-Îmân al-Manshûrah, 1423 H/2003 M) hal. 405.

[2] Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairîy an-Naisabûrîy, Shahîh Muslim, (Beirut: Dâr Ibnu Hazm, 2010M) hal. 468.

[3] Muhyiddîn bin Syaraf an-Nawawîy, Syarah shahîh muslim, (Kairo: Dâr al-Hadîts, 1994 M), Jilid 4, hal. 295.

[4] Muhyiddîn bin Syaraf an-Nawawîy, al-Majmû’ syarhu al-Muhadzab li asy-Syairâzîy, (Riyadh: Dâr Âlam al-Kutub, cet. 1, 2003) Jilid 3, hal. 168.

[5] Muhyiddîn bin Syaraf an-Nawwaîy, al-Majmû’ syarhu al-Muhadzab li asy-Syairâzîy… Jilid 3, hal. 169. Lihat juga: Permasalahan yang terkait dengan niat puasa, pada jilid 6, hal. 204-208.

[6] Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari (194-256 H), Shahîh al-Bukhârîy, (Kairo: Maktabah al-Îmân al-Manshûrah, 1423 H/2003 M) hal. 405.

[7] Abu Mâlik Kamâl bin as-Sayyid Sâlim, Shahîh fiqhi sunnah, (Kairo:al-Maktabah at-Taufiqiyah, 2003 M) Jilid 2, hal. 138.

[8] Ahmad bin ‘Alî bin Hajar al-‘Asqalânî, Fathu al-Bârî, (Kairo: Dâr al-Hadîts, 2004 M) Jilid 4, hal. 250.

[9] Ahmad bin Syuaib bin Ali an-Nasâ’i, Sunan an-Nasâi, (Riyadh: Maktabah al-Ma’ârif, cet. 2, 2008 M) hal. 367.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here