RISALAH CINTA DALAM AL-QUR’AN (Bagian 1, Arti Cinta)

0
784
risalah cinta elhijaz

PENGERTIAN CINTA (MAHABBAH)

  1. Pengertian Mahabbah Secara Bahasa.

Mahabbah (محبة) adalah sebuah kata dalam bahasa arab yang berbentuk isim masdar yang berakar pada suku kata:

أَحَبَّ – يُحِبُّ – حُبًّا وَ مَحَبَّةً

Kata حُبَّ  disini awalnya adalah حَبُبَ kemudian huruf ba’ yang pertama disukunkan dan diidghamkan kepada huruf ba’ yang kedua menjadi حُبَّ.[1]

Mahabbah memiliki beraneka ragam arti yang diungkapkan oleh para ulama bahasa dalam mendefinisikannya. Berikut definisi para ulama bahasa terkait makna kata tersebut;

Mahabbah secara bahasa menurut Ibnu Fâris[2]:

Mahabbah adalah tetap teguh mendampingi atau menyertai.

sebagaimana yang beliau katakan:

(حُبٌّ) اَلْحَاءُ وَالْبَاءُ أُصُوْلٌ ثَلَاثَةٌ, أَحَدُهَا اَللُّزُوْمُ وَالثَّبَاتُ. وَأَمَّا اللُّزُوْمُ فَالْحُبُّ وَالْمَحَبَّةُ, اِشْتِقَاقُهُ مِنْ أَحَبَّهُ إِذَا لَزِمَهُ.

“(Hubb) Huruf ha’ dan ba’ akar kata dari tiga makna, salah satunya bermakna menyertai dan tetap. Adapun yang dimaksud dari arti luzûm ialah hubb dan mahabbah, yaitu pecahan kata dari “mencintainya” jika “dia mendampinginya”.[3]

Ini disebabkan karena cinta memberikan konsekwensi kepada dua hati yang saling mencinta untuk tetap berdampingan bersama diatas cintanya berupa adanya ikatan hati dengan yang dicintainya.

Mahabbah secara bahasa menurut al-Juhariy[4]:

Mahabbah atau cinta secara bahasa bisa bermakna sesuatu yang terisi penuh.

Ini bisa dipahami pada perkataan orang arab saat mengatakan:

تَحَبَّبَ الْحِمَارُ: إِذَا امْتَلَأَ مِنَ الْمَاءِ

“Keledai akan dikatakan padanya Tahabbaba al-himâr  jika terisi penuh dengan air”.[5]

Dan demikian pulalah perihal cinta jika hadir, maka akan mengisi penuh ruang hati seseorang.

Mahabbah secara bahasa menurut ar-Râghib al-Asfahâniy[6]:

Mahabbah adalah sebuah keinginan terhadap sesuatu yang dianggapnya baik.

Sebagaimana yang beliau tuliskan dalam kitabnya:

اَلْمَحَبَّةُ إِرَادَةُ مَا تَرَاهُ أَوْ تَظُنُّهُ خَيْرًا

“Mahabbah adalah keinginan terhadap sesuatu yang kau anggap baik”.[7]

Berkenaan dengan makna mahabbah secara bahasa adalah irâdah, Ar-Râghib memperjelasnya dengan tiga pembagian:

Pertama       : Mahabbah terhadap kenikmatan, seperti keinginan seorang lelaki kepada seorang perempuan. Ini seperti makna ayat:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ …

“Manusia telah dihiasi padanya cinta syahwat kepada wanita .…” (Q.S Âli ‘Imrân [3]:14)

Kedua         : Mahabbah kepada kepada hal-hal yang bermanfaat, contohnya seperti ayat:

وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Q.S ash-Shaff [61]:13)

Ketiga         : Mahabbah kepada suatu yang memiliki keutamaan, seperti mahabbah kepada ahli ilmu.

Lalu beliau menegaskan bahwa meski secara bahasa mahabbah bisa berarti irâdah, sebagaimana pada ayat:

فِيْهِ رِجَالٌ يُحِبُّوْنَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا

“Di dalamnya ada laki-laki yang menyukai (ingin) bersuci” (Q.S at-Taubah [9]:23)

Namun sebenarnya mahabbah lebih umum dibanding irâdah. Karena semua mahabbah adalah irâdah dan bukan semua irâdah itu mahabbah.

Mahabbah secara bahasa menurut Ibnu Mandzhûr

Mahabbah adalah lawan kata dari kebencian yaitu kecintaan yang bermakna seperti istihsan, kata أَحَبَّ ini dapat digunakan untuk dua arah makna subjek yaitu yang mencintai (مُحِبٌّ) dan makna objek yaitu yang dicintai (مَحْبُوْبٌ).[8]

Mahabbah secara bahasa menurut Abu Hilâl al-‘Askariy[9]

Mahabbah adalah sebuah kecondongan terhadap sesuatu.[10]

Beliau memberikan penjelasan bahwa pendapat yang mengatakan bahwa mahabbah bermakna irâdah ini butuh tinjauan ulang. Karena secara bahasa jelas ada perbedaan makna antara keduanya, sebagaimana yang beliau katakan:

اَلْفَرْقُ بَيْنَ الإِرَادَةِ وَالمحَبَّةِ: أنَّ المحَبَّةَ تَجْرِي عَلَى الشَّيْءِ وَيَكُوْنُ المرَادُ بِهِ غَيْرُهُ, وَلَيْسَ كذلك الإِرَادَةُ. تَقُولُ: أَحْبَبْتُ زَيْدًا وَالْمُرَادُ أَنَّكَ تُحِبُّ إِكْرَامَهُ ونَفْعَه, وَلَا يُقَالُ أُرِيْدُهُ بِهَذا المعْنَى. وَتَقُول: أُحِبُّ اللهَ أي: أُحِبُّ طَاعَتَهُ ولا يُقالُ: أُرِيْدُ بِهذا المعْنَى.

“Perbedaan antara irâdah (keinginan) dan mahabbah (cinta): Mahabbah digunakan pada sesuatu tertentu, namun yang dimaksud adalah sesuatu yang lainnya, sementara irâdah digunakan pada dzat sesuatu yang dimaksud. Jika engkau katakan misalnya; aku cinta zaid, maka yang dimaksud mencakup maksud lain seperti kemuliannya dan manfaatnya. Adapan kata irâdah tidak tepat penggunaannya jika yang diinginkan makna tadi. Saat engkau mengatakan: aku cinta Allah, maka makna bukan aku menginginkan dzat Allah. Akan tetapi bermaksud yang lainnya seperti aku cinta ketaatan kepada Allah.”[11]

  1. Pengertian Mahabbah secara istilah.

Secara umum terdapat dua pendapat ulama terkait definisi mahabbah. Ada yang berpendapat bahwa mahabbah (cinta) tidak dapat didefinisikan secara rinci, karena hakikatnya cinta tidak dapat digambarkan. Hanya tanda-tandanya saja yang dapat terlihat. Kelompok kedua berpendapat bahwa mahabbah bisa didefinisikan dengan rinci namun merekapun berbeda-beda dalam mendefinisikannya.[12]

Karena memang sesungguhnya cinta itu adalah sebuah hubungan antara jiwa-jiwa di dasar sebuah alam dimensi yang tinggi[13], yang memang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Berikut adalah definisi mahabbah yang dipaparkan oleh para ulama:

Mahabbah menurut ulama tasawwuf

    Al-Kullâbâdziy menukilkan beberapa perkataan ulama terkait definisi mahabbah, diantaranya perkataan Muhammad bin Ali al-Kattâniy yang mengatakan:

اَلمحَبَّةُ الإِيْثَارُ لِلْمَحْبُوْبِ

“Mahabbah adalah mendahulukan sesuatu untuk yang dicintainya”.

Ada juga yang mengatakan:

المحبة إِثَارُ مَا تُحِبُّ لِمَنْ تُحِبُّ

“Mahabbah adalah mendahulukan sesuatu yang dicintainya untuk seseorang yang dia cintai”

Sementara Abu Abdillah an-Nabâjiy mengatakan:

الْمَحَبَّةُ لَذَّةٌ في المخْلُوْقِ وَاسْتِهْلَاكٌ في الخَالِقِ. مَعْنَى الإِسْتِهْلَاكِ أن لَا يَبْقَي لَكَ حَظٌّ وَلَا يَكُونُ لمحَبَّتِكَ عِلَّةٌ وَلَا تَكُوْنُ قَائِمًا بِعِلَّةٍ

“Mahabbah adalah kenikmatan terhadap makhluk, totalitas terhadap sang pencipta”

Maksud dari totalitas terhadap sang pencipta adalah tidak tersisa sedikitpun bagian untuk kita, dan tidak ada ‘illah pada cinta kita.[14]

    Al-Qusyairy memberikan penjelasan tentang definisi mahabbah, dengan perkataannya:

والْمَحَبَّةُ: حَالَةٌ شَرِيْفَةٌ شَهِدَ الحقُّ -سبحانه- بِهَا لِلْعَبْدِ، وَأَخْبَرَ عَنْ مَحَبَّتِهِ لِلْعَبْدِ، فالحق –سبحانه- يُوصَفُ بِأَنَّه يُحِبُّ الْعَبْدَ، والعبدُ يُوصَفُ بِأَنَّهُ يُحِبُّ الحَقَّ –سبحانه-.

“Mahabbah adalah suatu keadaan yang mulia, dimana Allah bersaksi dengan mahabbah itu untuk hambanya, dan Dia mengabarkan mahabbahNya itu kepada hambanya. Maka disini Allah disifati bahwa Dia mencintai hambanya dan hamba tersebut disifati bahwa dia mencintai Allah.”

Al-Qusyairiy juga menjelaskan bahwasanya yang dimaksud mahabbah bukanlah keinginan (irâdah), alasannya adalah karena irâdah tidak berkaitan dengan sesuatu yang lalu.[15]

    Imam al-Ghazâliy menjelaskan definisi mahabbah sebagai berikut:

الحُبُّ عِبَاَرةٌ عَنْ مَيْلِ الطَبْعِ إلى الشَّيْءِ الملَذِّ، فَإِنْ تَأَكَّدَ ذَلِكَ الميْلُ وَقَوَى سُمِّيَ عِشْقاً

“Hubb (Mahabbah) adalah kecondongan diri terhadap sesuatu yang nikmat, jika kecondongan itu semakin kuat maka dinamakan ‘Isyq” [16]

Beliau juga mengatakan:

اَلْمَحَبَّةُ في وَضْعِ اللِّسَانِ عِبَارَةٌ عَنْ مَيْلِ النَّفْسِ إِلَى مُوَافَقٍ مُلَائَمٍ

“Adapun arti mahabbah dikalangan orang arab adalah sebuah ungkapan tentang kecondongan jiwa kepada sesuatu yang cocok dengannya”[17]

Ibnu ‘Arabiy mengatakan:

الحُبُّ تَعَلُّقٌ خَاصٌ مِنْ تَعَلُّقَاتِ الِإرَادَةِ

“Mahabbah adalah sebuah ikatan khusus dari sebuah keinginan.”[18]

Dan beliau menjelaskan bahwa mahabbah merupakan maqam ilâhi, yang mana Allah mensifati diriNya dan menamakan dengan al-Wadûd yaitu yang maha Mencintai.

Pada maqam[19] ini Ibnu ‘Arabiy membagi menjadi empat laqab (gelar);

Pertama al-Hubb, gelar yang pertama ini adalah yang paling murni dari kotoran-kotoran yang hinggap. Disini tidak ada tujuan dan keinginan selain apa yang dicintainya.

Kedua al-Wudd, yang merupakan salah satu asma Allah dan wudd adalah sifat yang tetap bagi Allah.

Ketiga al-‘Isyq, yaitu cinta yang bersangatan.

Keempat al-Hawa. yaitu sirnanya sebuah keinginan bersama yang dicintai, dan sebuah keterikatan saat awal jatuh hati. [20]

Mahabbah menurut ulama tafsir

Imam ar-Râzi salah satu ulama tafsir yang berpendapat bahwa mahabbah adalah salah satu bentuk keinginan (irâdah).

Dimana beliau menukil pendapat jumhur ahli kalam yang berkata:

إِنَّ المحَبَّةَ نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ الإِرَادَةِ

“Sesungguhnya cinta (mahabbah) adalah diantara bagian dari sebuah keinginan”

Hanya saja beliau menegaskan bahwa makna ini hanya berlaku untuk makhluq, karena mustahil makna mahabbah tersebut dikaitkan kepada dzat dan sifat Allah. [21]

Ibnu ‘Âsyur mengatakan bahwa makna mahabbah dalam Al-Qur’an adalah makna hakiki, sehingga beliau mendefinisikan mahabbah sebagai berikut:

مَيْلُ النَّفْسِ إِلَى الحَسَنِ عِنْدَهَا بِمُعَايَنَةٍ أَو سَمَاعٍ أو حُصُوْلِ تقع مُحَقَّقٌ أو مَوْهُومٌ لِعَدَمِ انْحِصَارِ المحَبَّةِ في مَيْلِ النَّفْسِ إِلَى الْمَرْئِيَاتِ

“Mahabbah adalah kecondongan jiwa terhadap sesuatu yang bagus dengan melihatnya atau mendengarnya atau dengan merasakan adanya manfaat yang terwujud ataupun belum, karena keterbatasan cintanya pada kecondongan jiwa akan apa yang dilihatnya.”

Adapun kecondongan hati itu dapat terjadi pada fisik ataupun perbuatan yang elok, serta dapat terjadi juga pada sesuatu yang terlihat ataupun yang tidak terlihat.[22]

al-Biqâiy termasuk kepada ulama yang berpendapat bahwa mahabbah tergolong kepada sesuatu yang tidak bisa didefinisikan secara eksplisit. Sehingga beliau menafsirkan mahabbah lebih kepada sebuah rasa yang tidak bisa digambarkan, beliau berkata:

مِنَ الْحُبِّ وَهُوَ إِحْسَاسٌ بِوصْلَةٍ لَا يُدْرَى كُنْهُهَا

“Diantara makna mahabbah adalah suatu rasa yang terhubung namun tidak dapat dimengerti hakikatnya.”[23]

as-Silmiy mendefinisikan mahabbah dengan ungkapan berikut:

اَلْمَحَبَّةُ هِيَ مُوَافَقَةُ الْقُلُوْبِ عِنْدَ بُرُوْزِ لَطَائِفِ الْجَمَالِ

“Mahabbah adalah kecocokan hati saat timbulnya perasaan-perasaan yang indah.”[24]

asy-Sya’rawiy dalam khawâthir nya menjelaskan makna mahabbah, hal ini terkait tafsirannya terhadap surat at-Taubah ayat 108. Beliau berkata:

وَمَعْنَى الحُبِّ هو مَيْلُ الطَّبْعِ إِلى شَيْءٍ تَنْبَسِطُ لَهُ النَّفْسِ وَتُخَفُّ لِعَمَلِهِ

“Makna Hubb adalah kecondongan alami kepada sesuatu yang mana hal itu membuat jiwa ini lapang dan merasa ringan saat melakukannya”.[25]

Definisi Mahabbah menurut Ibnu al-Qayyim dan al-Alûsîy

  • Mahabbah menurut Ibnu al-Qayyim

Sepanjang penelitian penulis tentang definisi mahabbah ini, penulis dapati bahwa Ibnu al-Qayyim lah ulama yang paling panjang lebar berbicara tentang definisi mahabbah. Kita bisa melihat hal ini dalam kitabnya Raudhatu al-Muhibbîn wa nuzhatu al-Musytâqîn disana beliau membawakan lebih dari 22 definisi mahabbah , dan di dalam kitabnya Madâriju as-Sâlikîn beliau tuliskan 30 definisi mahabbah dengan lebih terperinci .

Ibnu al-Qayyim berpendapat bahwasanya tidak ada definisi mahabbah (cinta) yang paling jelas dari pada kata cinta itu sendiri. Beliau juga mengatakan bahwa definisi mahabbah (cinta) adalah keberadaan cinta itu sendiri. [26]

Maksudnya adalah definisi cinta yang paling tepat dan jelas adalah cinta. Dan ini selaras dengan apa yang dijelaskan oleh ulama yang berpendapat bahwasanya mahabbah tidak dapat didefinisikan secara rinci.

Bahkan menurut beliau definisi yang diuraikan oleh para ulama bukanlah sebuah definisi melainkan bagian dari sebab-sebab mahabbah, kewajiban-kewajibannya, tanda-tandanya, syahid-syahidnya (bukti) serta buah hasil dan hukum-hukumnya.

Ibnu al-Qayyim memaparkan bahwa definisi mahabbah secara bahasa mencakup lima arti: bening atau putih cemerlang, tinggi dan Nampak, tetap menyertai dan diam, inti sari dan menjaga atau menahan.

Selengkapnya beliau berkata:

وَهَذِهِ الْمَادَةُ تَدُورُ في اللُّغَةِ عَلَى خَمْسَةِ أَشْيَاء:

أَحَدُهَا اَلصَّفَاءُ وَالْبَيَاضُ وَمِنْهُ قَوْلُهُمْ لِصَفَاءِ بَيَاضِ الْأَسْنَانِ وَنَضَّارَتِهَا حُبَبُ الْأَسْنَانِ.

“Secara bahasa kata ini (mahabbah) berputar pada lima makna; Yang pertama: bermakna bening dan putih, sebagaimana dikatakan حبب الأسنان terhadap gigi yang putih cemerlang”

Dalam kitab lainnya, beliau juga berkata:

فَأَمَّا الْمَحَبَّةُ فَقِيْلَ أَصْلُهَا اَلصَّفَاءُ لِأَنَّ الْعَرَبُ تَقُوْلُ لِصَفَاءِ بَيَاضِ الْأَسْنَانِ وَنَضَّارَتِهَا حُبَبُ الْأَسْنَانِ

“Adapun اَلْمَحَبَّةُ mahabbah ada yang mengatakan bahwa asalnya adalah dari kata الصَّفَاءُ (bening), dimana orang mengatakan tentang bening putihnya gigi dengan ungkapan حُبَبُ اْلأَسَنَانِ dengan arti yang dimaksud gigi putih cemerlang.”[27]

اَلثَّاِني اَلْعُلُو وَالظُّهُوْرُ وَمِنْهُ حَبُبَ الْمَاءُ وَحِبَابُهُ وَهُوَ مَا يَعْلُوهُ عِنْدَ الْمَطَرِ الشَّدِيْدِ وَحَبُبَ الْكَأْسِ مِنْهُ

“yang kedua bermakna sesuatu yang tinggi dan terlihat, seperti jika dikatakan حبب الماء maka artinya air yang meninggi dan melimpah disaat hujan deras atau saat dituangkan pada gelas.”

اَلثَّالِثُ اَللُّزُوْمُ وَالَّثبَاتُ وَمِنْهُ حُبُّ الْبَعِيْرِ وَأَحَبَّ إِذَا بَرِكَ وَلَمْ يَقُمْ

“yang ketiga bermakna diam atau tetap menyertai, ini dapat dipahami saat seseorang mengatakan حب البعير maka maknanya seekor unta saat menderup dan diam.”

اَلرَّابِعُ اَللُّبُّ وَمِنْهُ حِبَّةُ اْلقَلْبِ لِلُبِّهِ وَدَاخِلِهِ وَمِنْهُ اَلْحِبَّةُ لِوَاحِدَةِ اْلحُبُوْبِ إِذْ هِيَ أَصْلُ الشَّيْءِ وَمَادَتُهُ وَقَوَامُهُ

“Yang keempat maknanya adalah inti sari, diantaranya jika dikatakan حبة القلب maknanya saripati hati atau hati yang terdalam, begitu juga saat dikatakan الحبة yang bermakna kata tunggal dari biji yang merupakan asal atau dasar sesuatu.”

اَلْخَامِسُ اَلْحِفْظُ وَالْإِمْسَاكُ وَمِنْهُ حُبُّ الْمَاءِ لِلْوِعَاءِ الَّذِي يَحْفُظُ فِيْهِ وَيُمْسِكُهُ وَفِيْهِ مَعْنَى الثُّبُوْتِ أَيْضًا

“Yang kelima bermakna menjaga dan menahan, maksudnya adalah jika dikatakan pada sebuah bejana حب الماء  maknanya adalah bejana itu menahan dan menjaga air tersebut.”

Setelah menjelaskan definisi mahabbah secara bahasa Ibnu al-Qayyim merumuskan sebuah definisi mahabbah yang sangat indah sekali.

Beliau berkata:

“Mahabbah adalah beningnya cinta dan gelora keinginan hati kepada yang dicintai, tinggi serta nampak jelas ikatannya dengan yang dicintai dan yang diinginkannya. Adanya kekokohan ,keinginan hati terhadap yang dicintainya hingga tetap mendampinginya dan takkan pernah berpisah dengannya, hati yang paling dalam serta sesuatu yang paling berharga hanya teruntuk yang dicintainya, dialah hatinya. Segala keinginannya, kemauannya dan kesungguhannya hanya kepada yang dicintainya.”

Ibnu al-Qayyim juga menafsirkan makna mahabbah perhuruf dengan tafsiran yang unik dan sangat menarik. Beliau mengatakan bahwa kata حب (huruf ha’ dan ba’ yang berarti mahabbah atau cinta) sangat cocok sekali dengan makna hakikinya.

Beliau menjelaskan bahwasanya jika ditinjau dari makhârij al-hurûf, huruf ha’ terletak ditempat yang paling awal yang jauh atau dalam yaitu pangkal ternggorokan, sementara huruf ba’ terletak di tempat ujung yang paling luar yaitu bibir. Beliau berkata:

فَلِلْحَاءِ الاِبْتِدَاءُ وَلِلْبَاءِ الِانْتِهَاءُ وَهَذَا شَأْنُ الْمَحَبَّةِ وَتَعَلُّقُهَا بِالْمَحْبُوْبِ فَإِنَّ اِبْتِدَاءَهَا مِنْهُ وَانْتِهَاءَهَا إِلَيْهِ

“Huruf ha’ adalah sebuah permulaan dan huruf ba’ adalah penghabisan, beginilah cinta/mahabbah dan ikatannya dengan yang dicintai bermula dari yang dicintai dan berujung dengan yang dicintai”[28]                                      

  • Mahabbah menurut al-Alûsîy

Adapun al-Alûsiy mendefiniskan mahabbah lebih dari segi bahasa yang bermakna kecondongan (اَلْمَيْلُ),  dengan merincikan beberapa hal dalam mengungkapkan makna mahabbah.

Beliau berkata:

فَالْمَحَبَّةُ لُغَةً مَيْلُ الْمُتصفِ بِهَا إِلَى أَمْرٍ ملذٍ.

“Mahabbah secara bahasa adalah kecondongan yang mengindikasikan cinta kepada suatu kenikmatan”

Kemudian beliau menjelaskan beberapa hal yang dapat membangkitkan mahabbah, beliau berkata:

وَاللَّذَاتُ الْبَاعِثَةُ عَلَى الْمَحَبَّةِ مُنْقَسِمَةٌ إِلَى مُدْرَكٍ بِالْحِسِّ كَلَذَّةِ الذَّوْقِ في الْمَطْعُوْمِ, وَلَذَّةِ النَّظَرِ في الصُّوَرِ الْمُسْتَحْسنَةِ إِلَى غَيْرَ ذَلِكَ، وَإِلَى لَذَّةٍ مُدْرَكَةٍ بِالْعَقْلِ كَلَذَّةِ الْجَاهِ وَالرِّيَاسَةِ وَالْعُلُوْمِ وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهَا.

“dan kenikmatan yang mendorong mahabbah itu terbagi menjadi dua; yaitu yang bisa nalar oleh panca indra seperti rasa pada sebuah makanan, nikmatnya memandang gambar-gambar yang indah dan yang lainnya. Yang kedua ialah kenikmatan yang bisa dirasakan oleh akal seperti nikmatnya kedudukan, ilmu dan semisalnya.”

Al-Alûsîy juga menjelaskan bahwa kadar besar kecilnya mahabbah itu bermacam-macam sesuai dengan hal-hal yang dapat membangkitkan mahabbah itu sendiri. Karena tentu berbeda kenikmatan yang dirasakan saat menjadi kepala desa dengan kepemimpinan daerah seperti gubernur presiden dan lainnya. sehingga tingkat kecintaan (mahabbah) terhadap kedudukan tersebut menjadi berbeda sesuai dengan tinggi atau besarnya jabatan tadi[29].

  1. Pengertian Mahabbatullah

Berkait dengan pendefinisian mahabbatullah ini ada 4 pendapat yang masyhur didalamnya[30] yaitu: Pendapat yang menetapkan mahabbatullah dan mahabbah hamba, pendapat yang menta’wil mahabbatullah dan mahabbah hamba, pendapat yang menetapkan mahabbah hamba dan menta’wil mahabbatullah dan yang terakhir adalah pendapat yang menafikan mahabbatullah dan mahabbah hamba.

  1. Pendapat yang menetapkan mahabbatullah dan mahabbah hamba kepada Allah.

Maksudnya adalah mereka menetapkan adanya sifat mahabbatullah kepada hambanya begitu juga menetapkan sifat mahabbah seorang hamba kepada Allah dengan makna hakiki tanpa menggunakan ta’wilan.

Pendapat ini adalah pendapat para ulama terdahulu (salaf) serta yang mengikuti mereka, berikut perkataan para ulama yang membawakan pendapat ini;

Al-Qusyairiy berkata:

وَقَوْمٌ مِنَ السَّلَفِ قَالُوا: مَحَبَّتُهُ مِنَ الصِّفَاتِ الْخَبَرِيَّةِ, فَأَطَلَقُوا اللَّفْطَ وَتَوَقَّفُوا عَنِ التَّفْسِيْر

“Dan dari kalangan salaf mengatakan bahwa mahabbatullah adalah sifat khabariyah, dan mereka menetapkan lafadzhnya serta tawaqquf dari penafsirannya.”[31]

Syaikhu al-Islâm Ibnu Taimiyah berkata:

وَسَلَفُ الْأُمَّةِ وَأَئِمَّةِ السُّنَّةِ عَلَى إِقْرَارِ الْمَحَبَّةِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ

“Kalangan salaf dari ummat ini dan para imam-imam sunnah menetapkan Mahabbatullah ini dengan makna mahabbah itu sendiri”

Maksudnya bahwa kalangan salaf tidak menta’wil makna mahabbatullah tersebut.

Ibnu ‘Âsyûr dalam tafsirnya juga lebih cenderung kepada pendapat bahwa mahabbatullah itu bukan majaz, hingga beliau sempat berkata dengan ungkapan yang melemahkan pendapat bahwa mahabbatullah itu majaz, beliau katakan:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ زَعَمَ أَنَّ تَعَلُّقَ الْمَحَبَّةِ بِاللهِ مَجَازٌ مُرْسَلٌ فِي الطَّاعَةِ وَالتَّعْظِيْمِ

“Ada diantara golongan yang mengklaim bahwa ikatan cinta dengan Allah itu bersifat majaz mursal yang bermaksud ketaatan dan pengagungan.”[32]

Ungkapan زعم dalam bahasa arab mengandung makna pelemahan terhadap sebuah pendapat yang dibawakan.

Ibnu al-Qayyim tergolong ulama yang berpendapat dalam kelompok ini, beliau berkata:

وَجَمِيْعُ طُرُقِ الْأَدِلَّةِ –عَقْلًا وَنَقْلًا وَفِطْرَةً وَقِيَاسًا وَاعْتبَارًا وَذَوْقًا وَوُجْدًا- تَدُلُّ عَلَى إِثْبَاتِ مَحَبَّةِ الْعَبْدِ لِرَبِّهِ وَالرَّبِّ لِعَبْدِهِ

“Dari seluruh jenis metodologi pendalilan –secara akal, nukilan syar’i, fitrah, qiyas dan perasaan- menunjukkan akan penetapan mahabbah seorang hamba kepada Rabbny dan mahabbah Rabb kepada hambanya”[33]

2. Pendapat yang menta’wil mahabbatullah dan mahabbah hamba kepada Allah.

Jumhur ahlu kalam mendefinisikan mahabbatullah dengan menggunakan ta’wil, hal ini dikarenakan mereka berpendapat bahwasanya ikatan mahabbah dengan dzat Allah itu mustahil[34].

Sehingga lahirlah bermacam-macam ta’wilan terhadap makna mahabbatullah terhadap hambanya, antara lain:

  • Bermakna keinginanNya untuk memberi kenikmatan yang khusus kepada hambanya.[35]Maksud penta’wilan ini adalah bahwa cinta Allah (mahabbatullah) kepada hambanya itu ialah sebuah rasa keinginan Allah untuk memberikan kenikmatan.
  • Bermakna Allah memilihnya dan mengujinya.[36] Maksudnya adalah saat Allah cinta kepada hambaNya maka hamba tersebut adalah pilihan Allah, dan diantara ciri bahwa Allah mencintainya adalah Allah mengujinya.
  • Bermakna Allah ridha atau rela kepada hambanya.[37]
  • Bermakna Allah memberikan pahala bagi hambanya,[38]maka yang dimaksud adalah saat kita dapati kalimat Allah mencintai orang yang bersuci menurut ta’wilan disini artinya Allah memberikan pahala padanya.

3. Pendapat yang menta’wil salah satu sisi dan menetapkan sisi lainnya.

Maksudnya adalah ada ulama yang menta’wil mahabbatullah dan menetapkan mahabbah hamba kepada Allah atau sebaliknya menetapkan mahabbatullah dan menta’wil mahabbah hamba kepada Allah.

  • Bagian pertama (pendapat yang menta’wil mahabbatullah dan menetapkan mahabbah kepada Allah)

Contohnya adalah Imam al-Ghazâli, beliau menetapkan sifat mahabbah hamba kepada Allah dan menta’wil mahabbatullah.

Ini dapat kita ketahui dari perkataannya sebagai berikut:

وَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَحَبَّةَ الْعَبْدِ اللهِ حَقِيْقَةٌ وَلَيْسَتْ بِمَجَازٍ

“Sungguh telah kami sebutkan bahwa mahabbah hamba kepada Allah itu bermakna sesungguhnya (hakikat) bukan majaz”

Kemudian beliau mengatakan bahwa makna mahabbatullah tidak bisa dimaknakan seperti ini. Maksudnya ialah tidak bisa dipahami langsung secara makna yang sesuai dengan lafadznya.

Lebih rinci lagi beliau mengemukakan makna mahabbatullah, beliau berkata:

فَإِنَّ مَحَبَّةَ اللهِ لِلْعَبْدِ تَقْرِيْبُهُ مِنْ نَفْسِهِ بِدَفْعِ الشَّوَاغِلِ وَالْمَعَاصِي عَنْهُ وَتَطْهِيْرِ بَاطِنِهِ عَنِ كَدُرَاتِ الدُّنْيَا وَرَفْعِ الْحِجَابِ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى يُشَاهِدَهُ كَأَنَّهُ يَرَاهُ بِقَلْبِهِ

“Sesungguhnya mahabbatullah kepada hambanya adalah bagaimana Allah mendekatkan hamba itu kepadaNya dengan menjauhkan kesibukan dan maksiat darinya, serta mensucikan jiwanya dari kotoran dunia dan menyingkap pembatas dari hatinya hingga seolah-olah dia dapat melihatNya dengan hatinya.”[39]

  • Bagian kedua (Menetapkan mahabbatullah dan menta’wil mahabbah hamba kepada Allah)

Contohnya adalah pendapat al-Alûsiy yang kita dapati dalam menafsirkan firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Q.S al-Baqarah [2]:165)

Beliau menafsirkan kalimat mahabbatullah pada ayat tersebut sebagai berikut:

وَمَحَبَةُ اللهِ تَعَالَى لِلْعِبَادِ صِفَةٌ لَهُ عَزَّ شَأْنُهُ لَا تَتَكَيَّفُ وَلَا يَحُوْمُ طَائِرُ الْفِكْرِ حَوْلَ حَمَاهَا

“Cinta Allah kepada hambanya adalah sifat yang sesuai dengan kemuliannya, tidak dapat ditanya bagaimana-bagaimana dan akal fikiran tidak akan mampu menguasai batasan-batasannya.”[40]

Begitu juga saat al-Alûsiy mentafsirkan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (Q.S al-Mâidah [5]:54)

beliau berkata:

مَحَبّةٌ تَلِيْقُ بِشَأْنِهِ تَعَالَى عَلَى الْمَعْنَى الَّذِي أَرَادَهُ

“Ialah sebuah mahabbah yang sesuai dengan dzat dan kemuliannya sebagaimana mestinya makna yang dikehendakiNya.”

Adapun mahabbah hamba kepada Allah maka al-Alûsiy sependapat dengan perkataan yang mengatakan bawha mahabbah hamba kepada Allah bermakna majaz, yang dimaksud adalah mahabbah dengan ketaannya kepada Allah. [41]

4. Pendapat yang menafikan mahabbatullah dan mahabbah hamba kepada Allah.

Mereka adalah dari kalangan al-Jahmiyah al-Mu’athilah[42] dan semisal yang menyerupainya. Mereka mengatakan:

فَإِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ وَلَا يُحَبُّ

“Bahwasanya Allah tidak mencintai dan tidak dicintai”[43]

Maksud dari ungkapan ini lahir dari pada asas aqidah mereka yang menafikan seluruh sifat Allah.

Mahabbah Dalam Al-Qur’an

  1. Pengertian Mahabbah Dalam Al-Qur’an

Sebagaimana yang kita jelaskan dalam definisi secara bahasa bahwasanya mahabbah berasal dari kata أَحَبَّ – يُحِبُّ – حُبًّا وَ مَحَبَّةً. Lafadz ini yaitu حب di dalam Al-Qur’an membawa makna-makna tersendiri. Yaitu bermakna itsâr (الإيثار) berarti mendahulukan atau mengedepankan, memilih (الإختيار), juga bermakna al-Mawaddah (المودة) yang artinya ialah cinta itu sendiri, serta bermakna al-Qillah (القلة) yang berarti sedikit, dan bermakna an-Naf’u (النفع) yang berarti bermanfaat.[44]

  1. Hubb bermakna itsâr (الإيثار).

Makna ini kita dapati pada ayat berikut:

فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ

“Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan”. (Q.S Shâd [38]:32)

Kata yang menunjukkan mahabbah dalam ayat ini: أَحْبَبْتُ

Makna kalimat mahabbah pada ayat ini adalah sesungguhnya aku lebih mendahulukan dan mengedepankan barang (kuda) dari pada mengingat Tuhanku.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”. (Q.S al-Hasyr [59]:9)

Kata yang menununjukkan mahabbah dalam ayat ini: يُحِبُّونَ

Begitu pula pada ayat ini, makna mahabbah disini adalah mereka para shahabat anshar lebih mengedepankan muhajirin dari pada diri mereka meskipun mereka juga membutuhkan hal tersebut.

Ayat lain yang menjelaskan tentang mahabbah bermakna îtsâr adalah firmah Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S at-Taubah [9]:23)

Kata yang menunjukkan mahabbah dalam ayat ini: اسْتَحَبُّوا

Maksud kata hubb dalam ayat ini adalah lebih memilih dan mengedepankan kekufuran dibandingkan keimanan. Ini seperti pada ayat berikut:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“yang demikian itu disebabkan karena Sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (Q.S an-Nahl [16]:107)

Kata yang menunjukkan mahabbah dalam ayat ini: اسْتَحَبُّوا

Dalam ayat ini juga dikatakan oleh sebagian ulama tafsir bahwa kata hubb disini bermakna mendahulukan dan mengedepankan.[45]

2. Hubb bermakna memilih (إختيار)

Makna ini kita dapati dalam firman Allah:

الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

“(yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.” (Q.S Ibrâhîm [14]:3)

Kata yang menunjukkan mahabbah dalam ayat ini: يَسْتَحِبُّونَ

Kata hubb dalam ayat ini bermakna memilih, yaitu orang-orang yang memilih kehidupan dunia dibandingkan akhirat.[46]Juga kita dapati dalam firman Allah:

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“dan Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, Maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S Fushilat [41]:17)

Kata yang menunjukkan mahabbah dalam ayat ini: فَاسْتَحَبُّوا

Maksud kata hubb dalam ayat ini bermakna memilih, yaitu mereka lebih memilih buta (kesesatan) dari pada petunjuk.[47]

3. Hubb bermakna mawaddah (المودة).

Seperti pada ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (Q.S al-Mâidah [5]:54)

Kata yang menunjukkan mahabbah dalam ayat ini: يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

Ayat diatas menunjukkan arti mahabbah secara hakiki, begitu juga ayat berikut:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Âli ‘Imrân [3]:31)

Kata yang menunjukkan mahabbah dalam ayat ini: تُحِبُّونَ

4. Hubb bermakna Qillah (القلة)

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (Q.S al-Insân[76]: 8)

Kata yang menunjukkan mahabbah dalam ayat ini: حُبِّهِ

Begitu juga pada ayat berikut:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.S al-Baqarah [2]:177)

Kata yang menunjukkan mahabbah dalam ayat ini: حُبِّهِ

Kata hubb pada dua ayat diatas mengandung makna sedikit, maksudnya mereka memberikan harta padahal itu sedikit yang dia miliki.[48]

5.Hubb bermakna manfaat (النفع)

وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Q.S ash-Shaff [61]:13)

Kata yang menunjukkan mahabbah dalam ayat ini: تُحِبُّونَهَا

Arti hubb pada kalimat تحبونها pada ayat ini adalah انتفع yang berarti mengambil manfaat.[49]

***bersambung kebagian 2, macam-macam cinta dalam Al-Qur’an***

Ditulis oleh Imron Rosyid Astawijaya
Pengasuh EL-HIJAZ Islamic and Arabic School
KDW, Ciracas, Jakarta Timur

==============================

[1] Abu Nashr Ismâil bin Hammâd al-Juhariy w. 393 H, ash-Shihâh Tâju al-Lughati wa Shihâh al-‘Arabiyah, (Kairo: Dâr al-Hadits, Cet. 2009) h. 217.

[2] Dia adalah Ulama bahasa al-Imam Abu al-Husain Ahmad bin Fâris bin Zakariya bin Muhammad bin Habîb al-Qazwainiy ar’Râziy al-Mâlikiy, lahir tahun 208 H di Qazwain. Beliau adalah ulama terdepan dibidang sastra dan bahasa, menguasai fiqih madzhab malikiy. sementara dalam permasalahan nahwu dia mengikuti madzhab kufiyun. Wafat tahun 395 H.

[3] Abu al-Husain Ahmad bin Fâris bin Zakariya bin Muhammad bin Habîb al-Qazwainiy ar’Râziy al-Mâlikiy w. 395, Maqâyîs al-Lughah, (Kairo: Dâr al-Hadits, Cet. 2008 M) h. 196.

[4] Dia adalah Abu Ismail bin Nashr bin Hammâd al-Juhariy al-Fârabiy berasal dari Fârab salah satu kota diTurki. Beliau lahir tahun 332 H. seorang ulama terkemuka dibidang bahasa dan sastra yang terkenal kecerdasan dan kepintarannya. Yaqut berkata tentang al-Juhariy: dia adalah salah satu keajaiban dizamannya. Ada perbedaan pendapat akan tahun wafatnya antara 393 H dan yang lebih terkenal beliau wafat tahun 398 H.

Lihat biografi beliau di muqaddimah ash-Shihâh Tâju al-Lughati wa Shihâh al-‘Arabiyah, (Kairo: Dâr al-Hadits, Cet. 2009) h. 10.

[5] Abu Nashr Ismâil bin Hammâd al-Juhariy w. 393 H, ash-Shihâh Tâju al-Lughati wa Shihâh al-‘Arabiyah, (Kairo: Dâr al-Hadits, Cet. 2009) h. 217.

[6] Abu al-Qâsim Husain bin Muhammad bin al-Fadhl ar-Râghib al-Ashfahâniy w. 502 H, al-Mufradât fi Gharîb Al-Qur’an, (Kairo: Dâr ibnu al-Jauziy, Cet. 2012 M) h. 116.

7 Abu al-Qâsim Husain bin Muhammad bin al-Fadhl ar-Râghib al-Ashfahâniy w. 502 H, al-Mufradât fi Gharîb Al-Qur’an, (Kairo: Dâr ibnu al-Jauziy, Cet. 2012 M) h. 116.

[8] Muhammad bin Mukrim bin Ali bin Ahmad al-Anshâriy al-Ifrîqiy w. 711 H, Lisân al-‘Arab, (Kairo: Dâr al-Hadits, Cet. 2013 M) h. 283, Jilid 2.

[9] Dia adalah al-Hasan bin Abdullah bin Sahl bin Said bin Yahya bin Mihrân al-‘Askariy ulama dibidang sastra dan fiqih, namun sastra dan syair lebih mendominan keilmuannya. Ahli sejarah belum mengetahui kapan dilahirkan dan kapan beliau wafat, namun tertera dibeberapa kitab wafat beliau tahun 395 H.

Lihat biografi beliau di muqaddimah kitab al-Furuq al-Lughawiyah.

[10] Abu Hilâl al-‘Askariy w. 395 H, al-Furûq al-Lughawiyah, (Kairo: Dâr al-Ilmi wa ats-Tsaqâfah TT) h. 122.

Ini sebagaimana perkata al-Junaid yang dinukil oleh al-Kullâbâdziy: المحبة ميل القلوب artinya: “mahabbah adalah kecondongan hati”. Lihat: Abu Bakar Muhammad bin Ishâq al-Bukhâriy al-Kullâbâdziy w. 380 H, Kitâb at-Ta’arruf li Madzhabi Ahli at-Tashawwuf, (Kairo: Maktabah al-Khânijiy, Cet. Kedua 1994 M) h. 79.

[11] Abu Hilâl al-‘Askariy w. 395 H, al-Furûq al-Lughawiyah, (Kairo: Dâr al-Ilmi wa ats-Tsaqâfah TT) h. 121.

[12] Ghâziy bin Muhammad bin Thalal, al-Hubb Fi Al-Qur’an al-Karim, (‘Aman Yordania: Dâirah al-Maktabah al-Wathaniyah, Cet. 10 Tahun 2009 M) h. 56.

[13] Abu Muhammad ‘Ali bin Ahmad bin Saîd bin Hazm al-Andalusîy w. 456 M, Thûqu al-Hamâmah Fî al-Ulfah wa al-Alâf, (Beirut: al-Muassasah al-‘Arabiyah, Cet. Kedua 1987 M) h. 126.

[14] Abu Bakar Muhammad bin Ishâq al-Bukhâriy al-Kullâbâdziy w. 380 H, Kitâb at-Ta’arruf li Madzhabi Ahli at-Tashawwuf, (Kairo: Maktabah al-Khânijiy, Cet. Kedua 1994 M) h. 79.

[15] Abu al-Qâsim Abdulkarim bin Hawazan bin Abdilmalik al-Qusyairy w. 465 H, ar-Risâlah al-Qusyairiyah, (Kairo: Mathâbi’ Dâr asy-Sya’b 1989 M) h. 519.

[16] Al-Imam Abu Hâmid al-Ghazâliy w. 505 H, Ihyâ Ulûmu ad-Dîn, (Kairo: Dâr al-Hadits, Cet. 2004 M) h. 369, Juz 4.

[17] Al-Imam Abu Hâmid al-Ghazâliy w. 505 H, Ihyâ Ulûmu ad-Dîn, (Kairo: Dâr al-Hadits, Cet. 2004 M) h. 407.

[18] Abu Bakar Muhyiddin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Ibnu ‘Arabiy w. 638 H, al-Futûhât al-Makkiyah, (Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah, Cet. 1999 M) h. 490, Juz 3.

[19] Maqâm adalah salah satu istilah yang dipakai dalam dunia sufiyah. Secara Bahasa Maqamaat bentuk jamak dari maqam yang bermakna tempat berpijak atau kedudukan yang berasal dari kata qaama. Adapun secara istilah dikatakan oleh al Qusyairiy maknanya adalah apa saja yang dengannya seseorang bisa mewujudkan kedudukannya dalam adab yang menjadi wasilah dalam berperilaku tanpa dibuat buat dengan selalu melatih dirinya. Diantaranya dengan konsisten didalam ketaatan kepada Allah . Sebagaimana yang beliau tuliskan dalam kitabnya seperti taubah, taqwa, wara’, zuhud, khauf dan lain lain yang berkaitan dengan keadaan jiwa dalam berhubungan dengan Allah. Abdulkarim bin Hawazan bin Abdilmalik al-Qusyairiy w. 465 H, ar-Risalah al-Qusyairiyah, (Kairo: Muassasah Dar asy-Sya’b, cet. 1409 H) hal. 464.

[20] Abu Bakar Muhyiddin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Ibnu ‘Arabiy w. 638 H, al-Futûhât al-Makkiyah, (Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah, Cet. 1999 M) h. 484, Juz 3.

[21] Abu Abdullah Muhammad bin bin Umar bin Hasan bin Husain Fakhruddin ar-Râziy w. 606 H, Mafâtih al-Ghaib, (Kairo: Dâr al-Fikri, Cet. 1, 1981 M) h. 227, Juz 4.

[22] Muhammad ath-Thâhir bin ‘Âsyur , at-Tahrîr wa at-Tanwîr, (Tunisia: Dâr Sahnûn TT) h. 90, Juz 2 Jilid 1.

[23] Abu al-Hasan Ibrahim bin Umar al-Biqâiy, Nadzhmu ad-Durar fi Tanâsubi al-Âyâti wa as-Suwar, (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, Cet. 1995 M) h. 299, Jilid 1.

[24] Abu Abdirrahmân Muhammad bin  al-Husain bin Musa al-AzadîAbu Abdirrahmân Muhammad bin  al-Husain bin Musa al-Azadîy as-Silmiy w. 412, Haqâiqu at-Tafsîr,(Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah) cet. 2001, h. 91, Jilid 1.

[26] Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar Ibnu al-Qayyim w. 751, Madâriju as-Sâlikîn, (Kairo: Dâr al-Hadîts, Cet. 2005 M) h. 10, Juz 3.

[27] Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar Ibnu al-Qayyim w. 751, Raudhatu al-Muhibbîn wa nuzhatu al-Musytâqîn, (Kairo: Dâr Ibnu al-Jawziy, Cet. 2006 M) h. 15

[28] Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar Ibnu al-Qayyim w. 751, Madâriju as-Sâlikîn, (Kairo: Dâr al-Hadîts, Cet. 2005 M) h. 10-11, Juz 3.

[29] Abu al-Fadhl Syihâbuddin as-Sayyid Mahmûd al-Alûsîy al-Bagdâdiy w. 1270 H, Rûh al-Ma’aniy fi Tafsîr Al-Qur’an al-‘Adzhîm wa Sab’I al-Matsânîy, (Kairo: Dâr al-Hadîts, Cet. 2005) h. 465, Jilid 3.

[30] Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar Ibnu al-Qayyim w. 751, Madâriju as-Sâlikîn, (Kairo: Dâr al-Hadîts, Cet. 2005 M) h. 17, Juz 3.

[31] Abu al-Qâsim Abdulkarim bin Hawazan bin Abdilmalik al-Qusyairy w. 465 H, ar-Risâlah al-Qusyairiyah, (Kairo: Mathâbi’ Dâr asy-Sya’b 1989 M) h. 519.

[32] Muhammad ath-Thâhir bin ‘Âsyûr, at-tahrîr wa at-Tanwîr, (Tunisia: Dâr Sahnûn, TT) H. Juz 2, Jilid 1.

[33] Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar Ibnu al-Qayyim w. 751, Madâriju as-Sâlikîn, (Kairo: Dâr al-Hadîts, Cet. 2005 M) h. 18, Juz 3.

[34] Abu Abdullah Muhammad bin bin Umar bin Hasan bin Husain Fakhruddin ar-Râziy w. 606 H, Mafâtih al-Ghaib, (Kairo: Dâr al-Fikri, Cet. 1, 1981 M) h. 227, Juz 4.

[35] Abu al-Qâsim Abdulkarim bin Hawazan bin Abdilmalik al-Qusyairy w. 465 H, ar-Risâlah al-Qusyairiyah, (Kairo: Mathâbi’ Dâr asy-Sya’b 1989 M) h. 519.

[36] Abu Bakar Muhammad bin Ishâq al-Bukhâriy al-Kullâbâdziy w. 380 H, Kitâb at-Ta’arruf li Madzhabi Ahli at-Tashawwuf, (Kairo: Maktabah al-Khânijiy, Cet. Kedua 1994 M) h. 79.

[37] Abu al-Fadhl Syihâbuddin as-Sayyid Mahmûd al-Alûsîy al-Bagdâdiy w. 1270 H, Rûh al-Ma’aniy fi Tafsîr Al-Qur’an al-‘Adzhîm wa Sab’I al-Matsânîy, (Kairo: Dâr al-Hadîts, Cet. 2005) h. 175, Jilid 2.

[38] Abu al-Fadhl Syihâbuddin as-Sayyid Mahmûd al-Alûsîy al-Bagdâdiy w. 1270 H, Rûh al-Ma’aniy fi Tafsîr Al-Qur’an al-‘Adzhîm wa Sab’I al-Matsânîy, (Kairo: Dâr al-Hadîts, Cet. 2005) h. 653, Jilid 1.

[39] Abu Hâmid Muhammad bin Muhammad al-Ghazâliy w. 505 H, Ihyâ ‘Ulûmi ad-Dîn, (Kairo: Dâr al-Hadîts, Cet. 2004 M) h. 407-409, Juz ke 4.

[40] Al-Alûsiy Abu Fadhl Syihâbuddin as-Sayyid Mahmûd al-Bagdadiy w. 1270 H, Rûh al-Ma’âniy fi tafsîr Al-Qur’an al-‘Adzhîm wa as-Sab’i al-Matsâniy (Kairo: Dâr al-Hadits, Cet. 2005 M) h. 594, Jilid 1.

[41] Abu al-Fadhl Syihâbuddin as-Sayyid Mahmûd al-Alûsîy al-Bagdâdiy w. 1270 H, Rûh al-Ma’aniy fi Tafsîr Al-Qur’an al-‘Adzhîm wa Sab’I al-Matsânîy, (Kairo: Dâr al-Hadîts, Cet. 2005) h. 464-465, Jilid 3.

[42] Jahmiyah adalah salah satu firqoh dalam islam yang nama ini dinisbahkan kepada tokoh pembesarnya yaitu al-Jahm bin Shafwân pada abad kedua hijriyah tepatnya wafat pada tahun 128 H. Dan diantara dasar pokok aqidahnya adalah menafikan sifat Allah. Lihat: Madkhal dalam kitab Syarhu Usûl al-I’tiqâdi Ahli Sunnati wa al-Jamâati, (Riyadh: Dâr Thayyibah, Cet. 9 tahun 2005 M) h. 43, Jilid 1.

[43] Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar Ibnu al-Qayyim w. 751, Madâriju as-Sâlikîn, (Kairo: Dâr al-Hadîts, Cet. 2005 M) h. 17, Juz 3.

[44] Mahâ Yusuf Jârallah al-Jârallah, “al-Hubbu wa al-Bughdhu fi Al-Qur’an al-Karîm”, Tesis,(Quwait University, 1999,), h.35 t.d.

[45] Shalih bin Abdil’aziz Âlu Syaikh, at-Tafsîr al-Muyassar, (Madinah: Majma’ al-Malik Fahd, th. 1430 H) h. 279.

[46] Jalâluddin Abdurrahman bin Abi Bakar as-Suyûtiy, Tafsîr al-Jalâlain, (Riyâdh: Dâr as-Salâm, Cet. 2, th. 2002 M) h. 264.

[47] Shalih bin Abdil’aziz Âlu Syaikh, at-Tafsîr al-Muyassar, (Madinah: Majma’ al-Malik Fahd, th. 1430 H) h. 478.

[48] al-Husain bin Muhammad ad-Dâmighâniy, Qâmûs al-Qur’an Islâhu al-Wujûh wa an-Nadzâir fi Al-Qur’an al-Karîm, (Beirut: Dâr al-‘Ilmi lil Malâyîn, Cet. 3 , thn 1980) h. 114

[49] Abu al-Qâsim Husain bin Muhammad bin al-Fadhl ar-Râghib al-Ashfahâniy w. 502 H, al-Mufradât fi Gharîb Al-Qur’an, (Kairo: Dâr ibnu al-Jauziy, Cet. 2012 M) h. 116.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here