TAAT KEPADA PEMIMPIN PERSPEKTIF HADITS (Takhrij dan Syarah)

0
2780
taat pemimpin elhijaz

TAAT KEPADA PEMIMPIN

DALAM PERSPEKTIF HADITS (TAKHRIJ DAN SYARAH)

 

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tujuh puluh tahun lebih bendera merah putih berkibar diangkasa, mengembara bersama mentari menembus masa dan generasi. Berganti pemimpin dengan ragam gaya tersendiri, mulai corak otoritarianisme hingga demokrasi. Jika kita cermati alur sejarah ini maka banyak sekali mutiara hikmah yang bisa kita abadikan, terutama yang berkait dengan etika diri menjalankan fungsi kehidupan dalam bermasyarakat disebuah negeri.

Dari awal pemerintahan hingga hari ini tak jarang kita dengar, kita baca dan kita saksikan tindakan dari sebagian kaum  muslimin sebagai warga negara, jauh dari  adab-adab yang diajarkan oleh islam. Terutama sikap mereka dalam bermuamalah dengan pemimpin atau pemerintah. Sebuah ghibah, cacian, celaan, demonstrasi hingga pemberontakan terhadap pemerintah kerap kali terjadi. Hal  ini tentunya memiliki pengaruh yang buruk terhadap aspek kehidupan baik politik dan keamanan, sosial, ekonomi dan lainnya yang menjadi bumerang bagi masyarakat itu sendiri.

Ini adalah sebuah permasalahan  yang syarat untuk dibahas guna menata  kembali etika seorang muslim dalam menjalankan fungsinya sebagai masyarakat yang bernegara. Dengan memohon taufiq dan kemudahan dari Allah ﷻ kami berusaha mengangkat pembahasan yang bertema “Taat Kepada Pemerintah Dalam Perspektif Hadits”.

B. Pembahasan

  1. Nash – nash Hadits
  2. Takhrij Hadits
  3. Kosakata
  4. Penjelasan Hadits
  5. Istinbat Hukum dan Kesimpulan
  6. Penutup dan Saran

 

PEMBAHASAN

B. HADITS-HADITS KETAATAN KEPADA PEMIMPIN

Kita bisa dapati dalam berbagai kitab hadits  lebih dari 40 hadits yang saling berkaitan dalam pembahasan ini, namun untuk lebih fokus dan ringkas maka penulis pilih enam hadits yang mengandung point-point inti.

  1. Hadits pertama:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ]قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنْ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ[.

Artinya:

Musaddad menceritakan hadits kepada kami, Yahya bin Said menceritakan hadits kepada kami, dari Syu’bah dari Abi at-Tayyah dari Anas bin Malik – radiyallahu ‘anhu- beliau berkata: [Rasulullah bersabda: dengarkanlah dan taatlah kalian! Meski pemimpin kalian dari kalangan budak etiopia yang kepalanya seperti kismis].

Lafadz milik al-Bukhariy.

Takhrij Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh:

  1. al-Bukhary no. 7142 dalam kitab al-Ahkam, bab wajibnya mendengar dan taat kepada imam selama itu bukan kemaksiatan[1].
  2. Muslim no. 1692 dalam kitab al-Hajj, bab anjuran melempat jumrah ‘aqabah dihari nahr dengan menunggang kendaraan[2] dan kitab al-Imarah, bab wajibnya taat kepada pemimpin dalam hal yang ma’ruf dan larangan taat dalam kemaksiatan[3].
  3. Ibnu Majah no. 2859 dalam kitab Jihad, bab ketaatan kepada imam[4]. Dishahihkan oleh al-Albany.
  4. Imam Ahmad no. 12126 dalam musnad Anas bin Malik[5].

Yang seluruhannya berasal dari shahabat Anas bin Malik, kecuali periwayatan Muslim dari shahabiyah Ummu al-Hushain dengan perbedaan lafadz pada kalimat عبد حبشي dengan lafadz  عبد مجدع.

  1. Hadits Kedua:

و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلِ بْنِ عَسْكَرٍ التَّمِيمِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى وَهُوَ ابْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ سَلَّامٍ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ سَلَّامٍ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ قَالَ قَالَ حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ قُلْتُ ]يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ فَجَاءَ اللَّهُ بِخَيْرٍ فَنَحْنُ فِيهِ فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ كَيْفَ قَالَ يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ[.

Artinya:

Muhammad bin Sahl bin ‘Askar at-Tamimy menceritakan hadits kepadaku, Yahya bin Hassan menceritakan hadits kepada kami, Dan Abdullah bin Abdirrahman ad-Darimy menceritakan hadits kepada kami, Yahya bin Hassan mengabarkan kepada kami, Mu’awiyah bin Sallam menceritakan hadits kepada kami, Zaid bin Sallam menceritakan hadits kepada kami dari Abi Sallam, dia berkata: Hudzaifah bin al-Yaman berkata:

[wahai Rasulullah sungguh dahulunya kami berada dizaman keburukan, lalu Allah datangkan kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan? Beliau menjawab: ya. Aku berkata: apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan? Beliau menjawab: ya. Aku berkata: apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan? Beliau menjawab: ya, aku berkata: bagaimana yang demikian itu? Beliau menjawab: sepeninggalku akan ada para pemimpin yang tidak memakai petunjuknya dan tidak memakai sunnahku, akan ada diantara mereka orang-orang yang hati mereka seperti hati-hati setan dalam jasad manusia, aku berkata: lalu apa yang harus aku perbuat jika aku mendapatinya? Beliau menjawab:  Dengarkan dan taatilah seorang pemimpin meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, dengarkanlah dan taatilah!]

Lafadz hadits ini milik Muslim.

Takhrij Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh:

  1. Muslim no. 1847 dalam kitab al-Imarah, bab wajibnya berbepegang teguh dengan jama’ah muslimin saat munculnya huru-hara, dan larangan memberontak[6].
  2. Abu Dawud no. 4244 dalam kitab al-Fitan, bab penyebutan fitnah-fitnah dan petunjuknya[7]. Dihasankan oleh al-Albany.
  3. Imam Ahmad no. 23427 dengan menggunakan lafadz وَإِنْ نَهَكَ ظَهْرَكَ [8]. Dengan jalur sanad yang berbeda sebagaimana berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ قَالَ سَمِعْتُ صَخْرًا يُحَدِّثُ عَنْ سُبَيْعٍ

Muhammad bin Ja’far menceritakan hadits kepada kami, Syu’bah menceritakan hadits kepada kami dari Abi at-Tayyah berkata: aku mendengar Shahr menceritakan hadits dari Subay’ (yang beliau mendengar Hudzaifah tentang hadits ini).

Penilaian ulama hadits terhadap rantai sanad tersebut:

  1. Muhammad bin Ja’far al-Hudzaliy yang terkenal dengan Ghundar:

Beliau banyak meriwayat hadits dari Syu’bah bahkan berguru selama 20 tahunan, Imam Ahmad salah satu yang meriwayatkan haditsnya.

‘Abdulkhaliq bin Manshur berkata, dari ibnu Ma’in beliau berkata: beliau adalah orang yang paling shahih penulisan haditsnya (dalam kitab).

Ibnu al-Mubarak berkata: Jika orang-orang berselisih pendapat terhadap hadits yang diriwayatkan Syu’bah, maka kitabnya Ghundar (Muhammad bin Ja’far) sebagai hakimnya.

Ibnu Abi Hatim berkata: aku bertanya kepada ayahku tentang Ghundar, maka beliau berkata: dia shaduq, muaddib, dan kapasitasnya dalam posisi hadits Syu’bah dinilai Tsiqah.

Ibnu Hibban menyebutnya dalam kitab ats-Tsiqat.

Ibnu Hajar menilainya dengan Tsiqah[9].

  1. Syu’bah bin al-Hajjaj bin al-Warad al-‘Atakiy al-Azadiy:

Yahya bin Said al-Qatthan berkata: tidak pernah aku melihat seorang yang lebih baik hadits dibanding Syu’bah.

Abu Dawud berkata: ketika Syu’bah wafat, Abu Sufyan berkata: Hadits telah wafat.

Ibnu Hajar berkata bahwa Syu’bah tergolong dalam kitabnya Ibnu Hibban (ats-Tsiqah).

  1. Abu at-Tayyah Yazid bin Humaid adh-Dhuba’iy al-Basriy.

Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah dan an-Nasa’i berkata: dia Tsiqah.

Ibnu al-Madiniy berkata: dia terkenal.

Abu Hatim berkata: dia Shalih.

Ibnu Hibban telah menyebutnya dalam kitabnya ats-Tsiqah[10].

  1. Shahr bin Badr.

Ibnu Hibban menyebutkannya dalam kitab ats-Tsiqat[11].

  1. Subaiy’ bin Khalid al-Yasykuriy al-Basriy.

Ibnu Hibban menyebutkannya dalam kitab ats-Tsiqat[12].

  1. Hadits ketiga:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ حَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن عمر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ]السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ[.

Artinya:

Musaddad menceritakan hadits kepada kami, Yahya bin Said menceritakan hadits kepada kami dari ‘Ubaidillah, Nafi’ menceritakan kepada kami hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar –radiyallahu ‘anhu- dari Nabi beliau bersabda:[ seorang muslim wajib mendengar dan taat )kepada pemimpin) dalam hal yang disukai dan dibencinya, selama tidak diperintah untuk sebuah kemaksiatan. Jika dia diperintah dalam kemaksiatan maka tidak boleh didengar dan ditaati].

Lafadz hadits milik al-Bukhariy.

Takhrij Hadits

Hadits ini  dikeluarkan oleh:

  1. Al-Bukhary no. 7144 dalam kitab al-Ahkam, bab wajibnya mendengar dan taat kepada imam selama itu bukan kemaksiatan.[13]
  2. Abu Dawud no. 2628 dalam kitab al-Jihad, bab Ketaatan[14]. Dishahihkan oleh al-Albany.
  3. At-Tirmidzy no. 1707 dalam kitab al-Jihad, bab tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah[15], beliau berkata bahwa hadits ini adalah hadits hasan shahih.

Dengan sanad penambahan nama ‘Ubaidillah bin Umar (عبيد الله بن عمر), namun kita dapati satu-satunya nama ‘Ubaidillah yang meriwayatkan hadits dari Nafi’ dan haditsnya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id adalah ‘Ubaidillah bin al-Akhnas an-Nakhaiy Abu Malik al-Kufiy[16].

  1. Imam Ahmad no. 4668[17] dan no. 6278[18] pada musnad Abdullah bin Umar bin al-Khattab.

 

  1. Hadits Keempat:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ عَنْ عَمْرٍو عَنْ بُكَيْرٍ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ مَرِيضٌ قُلْنَا أَصْلَحَكَ اللَّهُ حَدِّثْ بِحَدِيثٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهِ سَمِعْتَهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ]دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ[.

Artinya:

Ismail menceritakan hadits kepada kami, Ibnu Wahb menceritakan hadits kepada kami dari ‘Amr dari Bukair dari Busr bin Said dari Junadah bin Abi Umayyah berkata: kami masuk menemui Ubadah bin Shamit saat dia sedang sakit, kami berkata: semoga Allah Membaikan kondisimu, ceritakan kepada kami hadits yang engkau dengar dari Nabi, dia berkata: [Nabi memanggil kami, maka kamipun membai’atnya, beliaupun berbicara tentang hal-hal apa saja yang menjadi bai’at kami, yaitu kami harus mendengar dan taat dalam keadaan suka, duka, sempit, lapang dan mendahulukannya dari pada kepentingan kami. Dan tidak boleh mencopot kepemimpinan kecuali telah Nampak kekafirannya dengan bukti yang jelas].

Lafadz hadits ini milik al-Bukhariy.

Takhrij Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh:

  1. Al-Bukhary no. 7056 dalam kitab al-Fitan, bab sabda Nabi: setelah kepergianku kalian akan melihat perkara-perkara yang kalian ingkari[19].
  2. Muslim no. 1709 dalam kitab al-Imarah, bab wajibnya taat kepada pemimpin dalam hal yang ma’ruf dan larangan taat dalam kemaksiatan[20].                                                                                        

 

  1. Hadits Kelima:

حدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ ضَبَّةَ بْنِ مِحْصَنٍ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ]سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا[.

Artinya:

Haddab bin Khalid al-Azdy menceritakan hadits kepada kami, Hammam bin Yahya menceritakan hadits kepada kami, Qatadah menceritakan hadits kepada kami dari al-Hasan dari Dhabbah bin Mihshan dari Ummi Salamah sesungguhnya Rasulullah bersabda:[ kelak akan ada para pemimpin yang kalian kenali dan kalian ingkari, siapa saja yang mengenalinya maka dia telah berlepas diri dan siapa saja yang mengingkarinya maka dia selamat. Akan tetapi orang yang mengikutinya. Para shahabat bertanya: apakah kita memerangi mereka? Rasul menjawab: tidak, selama mereka masih menegakkan shalat].

Lafadz ini milik Muslim.

Takhrij Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh:

  1. Muslim no. 1853 dalam kitab al-Imarah, bab wajibnya mengingkari pemimpin jika mereka menyelisihi syariat, dan tidak memeranginya selama mereka masih menegakkan shalat, Dan no. 1855 dalam bab sebaik-baik pemimpin dan seburuk-buruk mereka[21].
  2. Imam Ahmad no. 23999[22] dan no. 26528[23] keduanya dalam musnad ‘Auf bin Malik al-Asyja’iy al-Anshariy.
  1. Hadits Keenam:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ جَابِرٍ قَالَ حَدَّثَنِي بُسْرُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ ]يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذلك[.

Artinya:

Yahya bin Musa menceritakan hadits kepada kami, al-Walid menceritakan hadits kepada kami, dia berkata: Ibnu Jabir menceritakan hadits kepadaku, dia berkata: Busr bin ‘Ubaidillah al-Hadramiy menceritakan hadits kepadaku, dia berkata: Abu Idris al-Khawlany menceritakan hadits kepadaku, sungguh dia telah mendengar Hudzaifah bin al-Yaman berkata: dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, semetara aku bertanya tentang keburukan karena takut hal itu menimpaku. Maka aku berkata: [wahai Rasulullah, sungguh dahulunya kami berada dizaman jahiliyah dan keburukan, lalu Allah datangkan kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan? Beliau menjawab: ya. Aku berkata: apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan? Beliau menjawab: ya, dan didalamnya ada kabut. Aku berkata: apakah kabutnya? Beliau menjawab: suatu kaum yang mengambil petunjuk selain petunjukku, kamu mengenali mereka dan mengingkarinya, aku berkata: apakah setelah kebaikan itu ada keburukan? Beliau menjawab: ya, para da’i yang menyeru kepintu-pintu neraka jahannam, siapa saja yang memenuhi seruanya maka mereka akan melemparkannya keneraka. Aku berkata: wahai Rasulullah: beritahu kami ciri-ciri mereka, beliaupun menjawab: mereka memiliki kulit seperti kalian dan berbicara dengan bahasa kalian. Aku berkata: lalu apa yang engkau perintahkan padaku jika aku mendapati hal yang demikian itu? Beliau bersabda: berpegang teguhlah dengan jama’ah muslimin dan pemimpin mereka, aku berkata: bagaimana kalau saat itu tidak ada jama’ah dan pemimpin? Beliau menjawab: menyingkirlah engkau dari seluruh firqah-firqah itu! Meskipun engkau harus menyendiri sampai tiba kematian].

Lafadz hadits ini milik al-Bukhariy.

Takhrij Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh:

  1. Al-Bukhary no. 3606 dalam kitab al-Manaqib, bab tanda-tanda kenabian dalam Islam[24] dan no. 7084 dalam kitab al-Fitan, bab bagaimana jadinya kalau tidak ada jama’ah[25].
  2. Muslim no. 1847 dalam kitab al-Imarah, bab wajibnya menjaga jama’ah muslimin[26].
  3. Abu Dawud no. 4244 dalam kitab al-Fitan, bab penyebutan fitnah-fitnah dan petunjuknya[27]. Dihasankan oleh al-Albany.
  4. Imam Ahmad no. 23427[28]

 

B. KOSAKATA

-(الطاعة) Taat secara bahasa bermakna kepatuhan dan ketundukan[29]. Secara istilah adalah melakukan sesuatu yang diperintah dan meninggalkan sesuatu yang dilarang[30].

(كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ)- Kepalanya kecil seperti kismis: sebuah permisalan yang  bermakna kerendahan atau kehinaan[31].

مجدعٌ)-) berasal dari kata  الجَدْع yang berarti  قطْع الأنف والأُذنhidung atau telinga yang terpotong[32], ungkapan ini menggambarkan tentang sebuah kerendahan atau kehinaan[33].

بَوَاحًا)-) bermakna إِظْهَارًا menampakkan[34], جِهَارًا terang-terangan[35], atau صَرَاحًا secara jelas[36].

عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فيه برهان)-) maksudnya adalah nash berupa ayat atau hadits yang shahih dan sharih yang tidak memungkinkan untuk ditakwil[37].

أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ)-) “engkau gigit gerahammu dibawah pohon” adalah kinayah yang bermakna kesungguhan dalam menanggung derita dalam pengasingan[38].

 

C. SYARAH HADITS

  1. Penjelasan Hadits Pertama.

Jika kita perhatikan hadits pertama diatas kita dapati sebuah perintah untuk taat kepada pemimpin secara umum  dari kalangan apapun, meskipun pemimpin itu berasal dari kalangan budak. Keumuman perintah ini telah Allah serukan dalam firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ …( النساء:59)

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman…, taatlah kalian kepada Allah! dan taatlah kalian kepada Rasul (Nya) dan ulil amri diantara kalian!…(Q.S an-Nisa’:59)

Ibnu Qayyim memberi penjelasan terkait ayat ini, beliau berkata: “ini adalah sebuah isyarat jika engkau beriman, maka iman itu akan berkonsekwensi untuk melakukan perintah ini[39]. Dan inilah makna dari hadits Rasulullah:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِزَامِيُّ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ يَعْصِنِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعْ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي

Artinya:

Yahya bin Yahya menceritakan hadits kepada kami, al-Mughirah bin ‘Abdirrahman al-Hizamiy mengabarkan kepada kami dari Abi az-Zinad dari al-A’raj dari Abi Hurairah dari Nabi beliau bersabda: siapa saja yang taat kepadaku maka dia telah taat kepada Allah, dan siapa saja yang menentangku maka dia telah menentang Allah. Dan siapa saja yang taat kepada pemimpin (amir) maka dia telah mentaatiku, dan siapa saja yang menentang pemimpin maka dia telah menentangku[40].

Dalam ayat ini para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna siapakah ulil amri yang dimaksud dalam ayat tersebut,

pendapat pertama  : mengatakan bahwa ulil amri adalah umara’ (para pemimpin).

pendapat kedua     : mengatakan bahwasanya ulil amri adalah ulama.

pendapat ketiga    : mengatakan bahwa ulil amri maksudnya adalah para shahabat Rasulullah.

pendapat keempat: berpendapat bahwa ulil amri adalah Abu Bakar dan Umar. Pendapat yang rajih dalam permasalahan ini adalah pendapat pertama dan kedua, sebagaimana dirajihkan oleh ath-Thabariy [41].

Siapakah yang dimaksud dengan pemimpin?

Dan yang dimaksud pemimpin adalah pemimpin kaum muslimin yang berada dinegeri islam.

Adapun negeri islam adalah mencakup seluruh negeri yang mana kaum muslimin bisa menampakkan hukum-hukum islam, baik mayoritas atau minoritas, meskipun pemimpinnya non muslim, namun selama kaum muslimin masih bisa menampakkan hukum-hukum islam atau tidak ada larangan terhadap hal itu maka negeri itu termasuk negara islam[42].

  1. Penjelasan Hadits Kedua Dan Ketiga.

Dalam hadits kedua dan ketiga menjelaskan bahwa ketaatan kepada ulil amri bukanlah ketaatan yang mutlaq atau ketaatan yang berdiri sendiri, akan tetapi ketaatan yang terikat dengan Allah dan RasulNya sebagaimana yang tersebut pada surat an-Nisa ayat 59 diatas. Maka ada batasan –batasan kapan kita boleh taat kepada mereka, hal inilah yang dijelaskan pada hadits ketiga diatas yaitu sebatas dalam perkara yang ma’ruf dan bukan kemaksiatan.

  1. Penjelasan Hadits Keempat Dan Kelima.

Dalam hadits keempat menjelaskan larangan untuk memerangi umara’ sampai nampak jelas kekafiran mereka, dan dihadits kelima menjelaskan batasan kapan maksud dari kakafiran itu. Dijelaskan bahwa selama mereka masih menegakkan shalat maka kita tidak boleh memeranginya. sebagaimana hadits:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ.

Artinya:

‘Abdullah bin Buraidah menceritakan hadits kepada kami dari ayahnya dia berkata: aku mendengar Rasulullah bersabda: perjanjian (ikatan) antara kita (muslimin) dan mereka (orang kafir) adalah shalat, siapa yang meninggalkan shalat maka dia telah kafir[43].

  1. Penjelasan Hadits Keenam.

Adapun hadits keenam menjelaskan solusi bagaimana jika terjadi huru-hara oleh pemerintah yang menindas sementara kita dilarang untuk melawan mereka, maka kita diperintahkan untuk bersabar untuk selalu menjaga persatuan kaum muslimin dan  menghindari perlawanan kepada mereka. Hal ini memiliki hikmah yang besar yaitu bertujuan agar gejolak fitnah tidak semakin menjadi[44]. Ibnu Hajar berkata: hikmah dari ketaatan kepada pemimpin adalah untuk menyatukan kalimat dari perpecahan dan kerusakan[45].

  1. Pemimimpin Adalah Cerminan Rakyatnya.

Diantara bentuk konsekwensi ketaatan kepada pemimpin adalah dengan tidak mencelanya, mencacinya apalagi melakukan pemberontakan. Karena seburuk-buruk pemimpin adalah gambaran dari rakyatnya, cukup bagi kita apa yang dinukil oleh Imam asy-Syaukaniy dalam tafsir:

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Demikianlah kami jadikan sebagian orang dzalim itu menjadi wali (teman, pemimpin) sebagaian yang lain, dengan apa saja yang mereka perbuat”.(Q.S al-An’am: 129)

Beliau tuliskan:

وأخرج أبو الشيخ عن منصور بن أبي الأسود قال : سألت الأعمش عن قوله {وكذلك نولي بعضَ الظالمين بعضا}  ما سمعتَهم يقولون فيه؟ قال : سمعتُهم يقولون إذا فسد الناس أُمِّر عليهم شِرارُهم.

Abu Syaikh telah mengeluarkan riwayat dari Manshur Bin Abil Aswad, beliau berkata: aku bertanya kepada Al A’masy tentang ayat ini, apa yang engkau dengar dari mereka (shahabat atau tabiin) berkata tentang ayat ini? Al A’masy menjawab: aku mendengar mereka berkata: Jika manusia telah rusak maka mereka akan dipimpin oleh orang-orang buruk dari mereka[46].

Semakna dengan itu terdapat pula firman Allah Ta’ala yang menunjukkan bahwa Allah-lah yang akan memilih pemimipin bagi rakyat-rakyat, Allah Ta’ala berfirman:

(قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ)

Artinya:

“Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Q.S Ali-Imron:26).

Muhammad Haqqiy –rahimahullah- dalam tafsir ayat ini mengatakan:

“مَعْنَاهُ إِنْ كُنْتُمْ مِنْ أَهلِ الطّاَعَةِ يُوَلَّ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الرَّحْمَةِ, وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ أَهْلِ الْمَعْصِيَةِ يُوَلَّ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْعُقُوْبَةِ”

“Maknanya adalah jika kalian dari kalangan orang yang taat maka Allah akan berikan kepada kalian pemimpin yang penuh rahmat, dan jika kalian dari kalangan ahli maksiat maka Allah akan memberikan pemimpin yang kejam[47]

D. ISTINBATH DAN KESIMPULAN.

Meskipun ketaatan kepada ulil amri bukanlah ketaatan yang mutlaq[48], namun dari pemaparan diatas bisa kita ambil kesimpulan bahwa:

  1. Wajib hukumnya taat kepada ulil amri dan haram hukumnya melawan ulil amri baik berupa demonstrasi, pemberontakan atau kudeta. Imam Nawawiy berkata:

وأما الخروج عليهم وقتالهم فحرام بإجماع المسلمين وإن كانوا فسقة ظالمين

“Adapun memberontak mereka (ulil amri) dan memeranginya maka hukumnya haram secara ijma’ kaum muslimin, meskipun mereka fasiq dan dzalim”[49].

  1. Otoritarianisme memiliki peranan yang lebih baik dalam menjaga stabilitas pemerintahan dibanding demokrasi.
  2. Perlu adanya penegakan hukum kepada siapa saja yang melanggar batasan etika yang terkait dengan nama baik pemerintah, seperti pembangkangan, demontrasi dan sebagainya.
  3. Negeri islam adalah mencakup seluruh negeri yang mana kaum muslimin bisa menampakkan hukum-hukum islam, baik mayoritas atau minoritas, meskipun pemimpinnya non muslim, namun selama kaum muslimin masih bisa menampakkan hukum-hukum islam atau tidak ada larangan terhadap hal itu maka negeri itu termasuk negara islam. (lihat hal.11).
  4. Sikap seorang muslim saat terjadi huru-hara oleh pemerintah yang menindas dan menganiaya, maka diperintahkan untuk bersabar untuk selalu menjaga persatuan kaum muslimin dan menghindari perlawanan kepada mereka.(lihat hal. 12)
  5. Pemimipin adalah cerminan rakyatnya. Jika rakyatnya baik maka akan Allah beri mereka pemimpin yang baik, jika rakyatnya buruk maka Allah akan beri mereka pemimpin yang buruk pula.(hal. 13)

PENUTUP

  1. SARAN

Sesungguhnya kewajiban taat kepada ulil amri serta larangan melawan mereka bukanlah berarti kita harus berdiam diri terhadap kemungkaran.

Bahkan wajib bagi kita untuk selalu mengingkari kemungkaran pemimpin, namun tentunya dengan cara yang syar’i sesuai kapasitas dan otoritas tersendiri.

Begitu pula kita wajib menyeru masyarakat untuk menunaikan kewajibannya terhadap pemimpin seperti adab ketaatan dan muamalah lainnya. Sahl bin ‘Abdillah berkata:

“لا يزال الناس بخير ما عظموا السلطان والعلماء, فإذا عظموا هذين أصلح الله دنياهم وأخراهم, وإذا استخفوا بهذين أفسد دنياهم وأخراهم”

“Manusia akan senantiasa dalam keadaan baik selama mereka memuliakan pemimpin dan ulama, jika mereka memuliakan keduanya maka Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka, dan jika mereka merendahkan pemimpin dan ulama maka Allah akan merusak dunia dan akhiratnya”[50].

DAFTAR PUSTAKA

Al-‘Adzim Abady, Muhammad Syamsu al-haq wafat 1329 H, ‘Aun al-ma’bud syarhu abi dawud, (Beirut: Dar al-kutub al-ilmiyah 1415 H).

Al-‘Asqalaniy, Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Tahdzib at-tahdzib, (Kairo: Dar al-hadits 1431 H – 2010 M) Jilid 2,3,4,6,7.

Al-‘Asqalany, Ahmad bin ‘Ali bin Hajar wafat 852 H, Fathu al-Bary bi syarhi shahih al-Bukhary, (Kairo: Dar al-hadits 1424 H – 2004 M).

Al-Bukhary, Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah wafat 256 H – 870 M, Shahih al-Jami’ al-Bukhary, (Kairo: Maktabah al-Iman 1423 H- 2003 M).

Al-Fayruz Abadiy, Muhammad bin Ya’qub wafat 817 H, al-Qamus al-Muhith, (Kairo: Dar al-hadits 1429 H – 2008 M).

Al-Hasan bin Muhammad ar-Raghib al-Ashfahaniy wafat 502 H, al-Mufradad fi gharib al-Qur’an, (Kairo: Dar ibnu al-jauziy 1433 H – 2012 M).

Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’d Ibnu Qayyim, ar-Risalah at-Tabukiyah, (Kairo: Dar ibnu al-Jauziy 1433 H – 2012 M).

Al-Juhariy, Ismail bin Hammad wafat 393 H, ash-Shihah taju al-lughati wa shihahu al-‘arabiyah, (Kairo: Dar al-hadits 1430 H – 2009 M).

Al-Muqriy, Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali al-Fayumiy wafat 770 H, al-Mishbah al-Munir, (Kairo: Dar al-hadits 1429 H – 2008 M).

Al-Qazwain, Ahmad bin Faris bin Zakariy wafat tahun 395 H, Maqayisu al-lughah, (Kairo: Dar al-hadits 1429 H – 2008 M).

Al-Qazwainy, Muhammad bin Yazid Ibnu Majah wafat 273 H, Sunan ibnu Majah, (Riyadh: Maktabah al-ma’arif, Cetakan kedua 1429 H – 2008 M).

An-Naisabury, Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairy wafat 261 H, Shahih Muslim, (Beirut: Dar ibnu hazm 1430 H – 2010 M).

An-Nawawiy, Yahya bin Syaraf al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin al-hajjaj, (Beirut: Dar ihya’ at-turas al-‘arabiy, cetakan ke2 1392 H – 1972 M) Jilid 12.

An-Nawawiy, Yahya bin Syaraf bin Muriy bin Hasan wafat 676 H, Syarhu shahih Muslim, (Kairo: Dar al-hadits Cetakan ke4 1422 H – 2001 M).

As-Sijistany, Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Syaddad bin ‘Amr al-Azdy Abu Dawud wafat 275 H – 889 M, Sunan Abi Dawud, (Kairo: Dar ibnu al-Jauzy Cetakan pertama 1432 H – 2011 M).

Asy-Syaibaniy, Ahmad bin Hanbal bin Hilal adz-Dzuhaly wafat 241 H – 855 M, Musnad al-Imam Ahmad, (Beirut: Muassasah ar-Risalah Cetakan kedua 1420 H – 1999 M) Jilid 8, 10, 19, 38, 39, 44.

Asy-Syaukani, Muhammad bin Ali bin Muhammad Wafat tahun 1250 H,Tafsir Fathu al-Qadir Al Jami’ baina Fannai ar-riwayah wa ad-dirayah min Ilmi tafsir, (Riyadh: Maktabah Ar-rusyd Cetakan ke6 1430 H – 2009 M) Jilid 2.

Ath-thabary, Muhammad bin Jarir Jami’ al-bayan ‘an ta’wil ayi al-Qur’an, (Kairo: Dar al-hadits 1431 H – 2010 M) Jilid 3.

At-Tirmidzy, Muhammad bin Isa bin Surah wafat 279 H, Sunan at-Tirmidzy, (Kairo: Dar ibnu Al-Jauzy Cetakan pertama 1432 H – 2011 M).

Ibnu al-Atsir, Al-Mubarak bin Muhammad al-Jazariy wafat 606 H, an-Nihayah fi gharib al-hadits wa al-atsar, (Beirut: al-Maktabah al-Ilmiyah 1399 H – 1979 M).

Ramadhaniy Abdulmalik bin Ahmad, Kama takunu yuwalla ‘alaikum (Al-Jazair: Maktabah wa tasjilat al-quraba’ al-atsariyah, Cet. 4, 2008 H)

‘Udah, Abdulqadir, at-Tasyri’ al-Jinaiy al-Islamiy, (Kairo: Dar at-taufiqiyah 2009 M) Juz 1.

*****

Ditulis oleh:
Imron Rosyid Astawijaya
Pengasuh Ma'had El-Hijaz (EL-HIJAZ ISLAMIC AND ARABIC SCHOOL), CIRACAS - JAKARTA TIMUR

[1] Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhary wafat 256 H – 870 M, Shahih al-Jami’ al-Bukhary, (Kairo: Maktabah al-Iman 1423 H- 2003 M) hal. 1426.

[2] Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairy an-Naisabury wafat 261 H, Shahih Muslim, (Beirut: Dar ibnu hazm 1430 H – 2010 M) hal. 539.

[3] Shahih Muslim, Hal. 826.

[4] Muhammad bin Yazid Ibnu Majah al-Qazwainy wafat 273 H, Sunan ibnu Majah, (Riyadh: Maktabah al-ma’arif, Cetakan kedua 1429 H – 2008 M) Hal. 485.

[5] Ahmad bin Hanbal bin Hilal adz-Dzuhaly asy-Syaibaniy wafat 241 H – 855 M, Musnad al-Imam Ahmad, (Beirut: Muassasah ar-Risalah Cetakan kedua 1420 H – 1999 M) Jilid 19, hal. 178.

[6] Shahih Muslim, hal. 830.

[7] Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Syaddad bin ‘Amr al-Azdy as-Sijistany Abu Dawud wafat 275 H – 889 M, Sunan Abi Dawud, (Kairo: Dar ibnu al-Jauzy Cetakan pertama 1432 H – 2011 M) hal. 489.

[8] Musnad Imam Ahmad, Juz. 38, hal.423

[9] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalaniy, Tahdzib at-tahdzib, (Kairo: Dar al-hadits 1431 H – 2010 M) Jilid 6, hal. 183.

[10] Tahdzib at-tahdzib, Jilid 7, hal. 635.

[11] Tahdzib at-tahdzib, Jilid 3, hal. 385.

[12] Tahdzib at-tahdzib, Jilid 6, hal. 650.

[13] Hal. 1427.

[14] Sunan Abi Dawud, hal. 310.

[15] Muhammad bin Isa bin Surah at-Tirmidzy wafat 279 H, Sunan at-Tirmidzy, (Kairo: Dar ibnu al-Jauzy Cetakan pertama 1432 H – 2011 M) hal. 326.

[16] Tahdzib at-tahdzib, Jilid 4, hal. 549.

[17] Musnad al-Imam Ahmad, Juz 8, hal. 293.

[18] Musnad al-Imam Ahmad, Juz 10, hal. 379.

[19] Shahih al-Bukhary, hal.1414.

[20] Shahih Muslim, hal. 827

[21] Shahih Muslim, hal. 832.

[22] Musnad Imam Ahmad, Juz 39, hal. 427.

[23] Musnad Imam Ahmad, Juz 44

[24] Shahih al-Bukhary, hal. 753.

[25] Shahih al-Bukhary, hal. 1418.

[26] Shahih Muslim, hal. 830.

[27] Sunan Abi Dawud, hal. 489.

[28] Musnad al-Imam Ahmad, Juz 38 hal. 423.

[29] Ismail bin Hammad al-Juhariy wafat 393 H, ash-Shihah taju al-lughati wa shihahu al-‘arabiyah, (Kairo: Dar al-hadits 1430 H – 2009 M) hal.712. Ahmad bin Faris bin Zakariy al-Qazwain wafat tahun 395 H, Maqayisu al-lughah, (Kairo: Dar al-hadits 1429 H – 2008 M) hal. 540, Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali al-Fayumiy al-Muqriy wafat 770 H, al-Mishbah al-Munir, (Kairo: Dar al-hadits 1429 H – 2008 M) 237, Al-Hasan bin Muhammad ar-Raghib al-Ashfahaniy wafat 502 H, al-Mufradad fi gharib al-Qur’an, (Kairo: Dar ibnu al-jauziy 1433 H – 2012 M), Muhammad bin Ya’qub al-Fayruz Abadiy wafat 817 H, al-Qamus al-Muhith, (Kairo: Dar al-hadits 1429 H – 2008 M) hal.1024.

[30] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalany wafat 852 H, Fathu al-Bary bi syarhi shahih al-Bukhary, (Kairo: Dar al-hadits 1424 H – 2004 M) Jilid 13, hal. 131.

[31] Fathu al-bariy,Jilid 13, hal. 142.

[32] Al-Mubarak bin Muhammad al-Jazariy Ibnu al-Atsir wafat 606 H, an-Nihayah fi gharib al-hadits wa al-atsar, (Beirut: al-Maktabah al-Ilmiyah 1399 H – 1979 M) Jilid 1, hal.705.

[33] Yahya bin Syaraf bin Muriy bin Hasan an-Nawawiy wafat 676 H, Syarhu shahih Muslim, (Kairo: Dar al-hadits Cetakan ke4 1422 H – 2001 M) Jilid 5, hal. 54.

[34] Ismail bin Hammad al-Juhariy wafat 398 H, ash-Shihah taju al-lughah wa shihah al-‘arabiyah, (Kairo: Dar al-Hadits 1430 H – 2009 M) hal. 120.

[35] an-Nihayah fi gharib al-hadits wa al-atsar, hal. 421.

[36] Fathu al-Bary bi syarhi shahih al-Bukhary, Jilid 13, hal. 10.

[37] Fathu al-Bary bi syarhi shahih al-Bukhary, Jilid 13, hal. 11.

[38] Muhammad Syamsu al-haq al-‘Adzim Abady wafat 1329 H, ‘Aun al-ma’bud syarhu abi dawud, (Beirut: Dar al-kutub al-ilmiyah 1415 H)  Jilid 11, hal. 211.

[39] Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’d Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ar-Risalah at-Tabukiyah, (Kairo: Dar ibnu al-Jauziy 1433 H – 2012 M) hal. 25.

[40] Muslim no. 1835 dalam kitab al-Imarah, bab wajibnya taat kepada pemimpin dalam hal yang ma’ruf dan larangan taat dalam kemaksiatan . Imam Ahmad no. 8134 dalam musnad Abu Hurairah.

[41] Muhammad bin Jarir ath-thabary, Jami’ al-bayan ‘an ta’wil ayi al-Qur’an, (Kairo: Dar al-hadits 1431 H – 2010 M) Jilid 3, hal. 919-920.

[42] Abdulqadir ‘Udah, at-Tasyri’ al-Jinaiy al-Islamiy, (Kairo: Dar at-taufiqiyah 2009 M) Juz 1, hal. 210.

[43] Musnad Ahmad no. 22937, Juz 38, hal.20.

[44] ‘Aun al-ma’bud, Jilid 11, hal. 211.

[45] Fathu al-bariy, Jilid 13, hal. 14.

[46] Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy-Syaukani Wafat tahun 1250 H,Tafsir Fathu al-Qadir Al Jami’ baina Fannai ar-riwayah wa ad-dirayah min Ilmi tafsir, (Riyadh: Maktabah ar-rusyd Cetakan ke6 1430 H – 2009 M) Jilid 2, hal. 64.

[47] Abdulmalik bin Ahmad Ramadhaniy, Kama takunu yuwalla ‘alaikum (Al-Jazair: Maktabah wa tasjilat al-quraba’ al-atsariyah, Cet. 4, 2008 H) hal. 62.

[48] Lihat: fathu al-bariy, Jilid 13, hal. 130.

[49] Yahya bin Syaraf an-Nawawiy, al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin al-hajjaj, (Beirut: Dar ihya’ at-turas al-‘arabiy, cetakan ke2 1392 H – 1972 M) Jilid 12, hal. 229.

[50] Lihat: Muhammad bin Ahmad al-Anshary al-Qurtuby wafat 671 H, al-Jami’ li ahkam al-Qur’an, (Kairo: Dar al-hadits 1431 H – 2010 M) Jilid 3, hal. 230.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here